MAKAM SANG …..


Makam sang … pada awalnya hanyalah sebuah makam biasa yang terletak diantara rumpun bambu di Gang Medoro, gang paling ujung di Desan Kramatan. Kehadirannya tak pernah digubris hingga pada suatu hari Pak Warja menemukannya kala mencari rumput untuk kambing-kambingnya. Yang menarik perhatiannya adalah makam ini hanya terdiri sepasang patok tanpa keterangan siapakah yang bersemayam di dalamnya, atau sekedar memberitahu siapa ahli warisnya.

Pak Warja segera pulang ke rumah dengan tergopoh-gopoh dan sesampainya ia pun ngatakan tentang penemuannya pada masyarakat sekitar. Tak lupa Pak Warja pun memberi sedikit sentuhan sensasi magis yang ia rasakan secara berlebihan. Mulai dari posisi makam yang membelah persis rumpun bambu menjadi dua, hingga letak makam tersebut yang jauh dari tempat pemakaman desa. Segeralah masyarakat Desa Kramatan seperti tersihir akan cerita Pak Warja. Sebagian penduduk memutuskan pergi mengikuti Pak Warja untuk membuktikan kebenaran omongan Pak Warja. Sebagian lagi sibuk berspekulasi siapakah yang bersemayam di balik makam tersebut. Sibuk mengaitkan makam itu dengan sejarah desa, mencari benang merah yang tersembunyi.

Beberapa hari kemudian makam itu seolah-olah mempunyai daya tarik tersembunyi. Secara tiba-tiba saja berita penemuan makam misterius tersebut telah menyedot perhatian banyak orang.  Tidak hanya Desan Kramatan yang heboh, namun desa sekitar kramatan pun turut mempertanyakan perihal makam tersebut, spekulasi masyarakat mulai merambah ke wilayah mitos dan mistik. Hingga sejak kapan, sekelompok orang mentasbihkan bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas makam tersebut. Masyarakat pun hanya bisa mengiyakan tanpa harus bertanya mengapa harus mereka yang bertanggung jawab.

Dalam sekejap saja makam tersebut diziarahi oleh bermacam-macam rupa manusia. Mereka datang dengan berjuta tujuan dan keinginan. Seperti menganggap bahwa makam itulah kunci pengabulan segala keinginan dan do’a. Entah sejak kapan tiba-tiba saja makam tersebut telah memiliki puluhan nama, makam sang wali karena masyarakat beranggapan bahwa yang bersemayam di dalamitu adalah seorang wali saktimandraguna yang membawa ajaran islam ke desa keramatan. Adapula yang eranggapan bahwa ituadalah makam seorang pejuang yang ikut  kini menjadi ramai dengan segala kesibukan yang berkaitan dengan makam sang …. masyarakat desa pun bersombong diri dengan mengatakan bahwa makam tersebut merupakan kunci keberkahan bagi desa mereka. Karena secara tidak langsung makam tersebut telah membawa dampak tersendiri bagi mereka.

Tapi tidak halnya dengan Kiai Rahmat. Ia malah resah dengan kehadiran makam sang …. bukan karena keberadaannya yang kian dilupakan tergantikan oleh makam sang …, bukan karena kehadirannya yang kian terlupakan. Tapi karena dakwahnya yang gagal membimbing masayarkat hanya karena makam sang ….

Hingga suatu hari ditengah pengajian rutin sehabis jama’ah isya, sang kiai mengutarakan kegundahannya selama ini di hadapan para santri yang masih bertahan pada keyakinannya.

“syirik itu adalah dosa besar.  Karena itu artinya kita menduakan, membandingkan dan menyamakan allah dengan sesuatu. Nah, dalam praktek kehidupan hal ini sangat sulit untuk dibedakan. Kita harus berhati-hati, tak jarang orang salah memahaminya karena pengetahuan agama mereka sangat dangkal.  Mereka hanya melihat suatu permaslahan hanya dari satu sisi. Untuk mengantisipasinya kita harus menelusuri dari awal, asal muasal datangnya masalah karena ini menyangkut dengan masalah ketauhidan. Salah bertindak bisa saja kita terjerumus dalam dosa besar.”

“maaf, yi bisa jenengan kasih contoh secara langsung?” salah satu santri bertanya langsung tanpa menunggu kiai tersebut mempersilakan santrinya untuk bertanya.

“seperti yang terjadi di desa kita ini. Banyak masyarakat yang menganggap makam temuan itu dengan persepsi yang berlebihan. “

“Berarti yang selama ini dilakukan masyarakat desa itu syirik, pak kiai?” santri yang duduk di pojok kanan ikut bertanya.

“bila ada makam temuan ada dua hal yang kita lakukan. Pertama kita cari terlebih dahulu siapa ahli warisnya bila ada berarti makam itu sepenuhnya tanggung jawab si ahli waris. Bila tidak ada baru kita menggunakan cara kedua, yaitu membersihkannya, bisa kita berikan patok sebagai pembatas atau kita biarkan saja. Bila kita berbaik hati bisa saja kita mendoakan, bisa saja yang bersemayam itu orang muslim, tapi bila seumpama bukan, toh kita tidak masalah. Tugas kita Sampai disini. Jangan ceritakan secara berlebihan tentang makam tersebut. Hubungan kita dengan si ruh tersebut sudah putus kecuali tiga hal : amal jariah, doa anak kepada orang tua atau sebaliknya dan ilmu yang bermanfaat.”

“maaf yi, berarti kita tidak boleh hal ini berlanjut terus? Tapi, sekali lagi maaf yi, selama ini toh tidak ada yang melarang apa yang diperbuat oleh orang-orang kebanyakan termasuk jenengan sendiri, apa ada solusi lain?” santri yang bertanya itu sepertinya takut untuk mengutarakan pendapatnya. Sedangkan Kiai Rahmat seperti mendapat sebuah tamparan keras di pipinya. Ia seakan tersadar akan kesalahannya selama ini. Ia melupakan sesuatu yang seharusnya telah ia lakukan sebelumnya. Tiba-tiba saja ia merasa hina, ilmu yang selama ini ia dapatkan ternyata belum seberapa dengan yang diamalkannya. Ia terdiam, tergugu, bahkan menangis atas kebodohannya. Sedangkan santri-santri yang melihat apa yang terjadi pada kiainya hanya bisa diam bingung menatap kiainya yang menangis sembari menutup pengajian mereka hari ini.

Sepulang dari musholla pondok, Kiai Rahmat masih ingat tamparan kecil yang menusuk hatinya. Bahkan perkataan santrinya dirasakannya seperti teguran dari tuhan kepadanya yang lalai. Malam yang larut pun tak kunjung membuat Kiai Rahmat lupa akan kejadian tersebut. Walaupun jam telah berdentang dua kali, ia tetap tak bisa memejamkan matanya untuk mengalihkan perhatiannya. Ia semakin dihantui oleh perasaan yang bersalah. Dengan putus asa ia beranjak dari tempat tidurnya. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Digelarnya sajadah, dan dilaksanakannya sholat taubah. Seusainya ia pun memanjatkan segala keluh kesah yang bergumul dihatinya. Diluruskannya benang kusut sehingga terurai satu persatu. Tak lupa ia memohon ampun atas kelalaiannya selama ini.

“ya, allah tuhanku, hamba mohon maaf atas kelalaian selama ini. Hamba telah membiarkan kesyirikan yang terjadi terus berlarut-larut. Hamba mohon bimbinanmu, semoga engkau bukakan hidayah-mu di hati mereka. Maafkan kesalahan mereka, sebab hamba merasa kesalahan mereka adalah kesalahan hamba yang tidak kunjung bertindak, hamba mohon ampunan-mu ya allah” Kiai Rahmat terus merintih mengadu pada tuhan. setelah dipanjatkannya doa sebagai penutup, Kiai Rahmat telah mengambil keputusan untuk mengajak kembali penduduk Desan Kramatan kembali pada diennya. Ia akan menentang segala bentuk kegiatan syirik yang berhubungan dengan makam tersebut.

Keesokan harinya Kiai Rahmat memanggil sejumlah santri kepercayaannya, diberitahunya maksud hatinya untuk menentang kepercayaan desa akan makam sang … Kemudian, ia bersama santri-santrinya melangkah pergi menuju Gang Medoro, menuju tempat keberadaan sang makam. Sepanjang perjalanan dipanjatkannya doa untuk menambah keyakinan hati akan apa yang akan ia lakukan. Sesampainya ia dilokasi makam sang …. ia pun segera menuju kerumunan orang yang tengah menjalankan ritual. Ditungguinya hingga mereka selesai, ia pun menegur pimpinan kegiatan itu yang paling depan dan membawa dupa yang tengah membara.

“mas, bisa kita bicara sebentar?” kiai rahhmat mencoba bicara dengan nada bersahabat.

“oh, Kiai Rahmat, ada apa tumben ke makam. Mau ikut sajenan, yi?” ucapnya setengah kaget atas kehadiran Kiai Rahmat.

“astaghfirullah!!” batin Kiai Rahmat terkejut atas sambutan dari pria tersebut. Kendati demikian, ia tetap berusaha tenang menghadapinya.

“mulai besok anda tidak boleh lagi megadakan kegiatan apapun yang berhubungan dengan makam ini. Masalah makam, biar saya dan santri-santri saya yang mengurusinya. Tapi sekali lagi tolong tinggalkan kebiasaan anda. Semua yang anda lakukan beserta kawan-kawan anda ini adalah syirik, hukumnya dosa besar.”

“maksud panjenengan ini apa???!!” tegas pria itu tidak terima dengan perkataan Kiai Rahmat.

“saya menentang kegiatan ini. Untuk apa anda memohon sesuatu pada makam yang statusnya orang tersebut sudah meninggal, itu sia-sia pak, lebih baik anda meminta allah saja.”

“pak kiai, saya tidak pernah mencampuri urusan anda dengan kegiatan pondok anda. Jadi jangan campuri urusan kami!!” ucap pria itu dengan setengah marah.

“tapi ini tetap urusan saya, saya tidak bisa tinggal diam melihat lingkungan saya terjerumus dosa.” Kiai Rahmat mencoba tetap tenanguntuk menghindari pertengkaran yang lebih memanas. Tapi belum sempat dilanjutkannya seseorang dipihak pria itumengecam keras dengan nada kasar . menentang apa yang dikatakan oleh Kiai Rahmat.  Hal ini disambut dengan serupa oleh rombongannya.

“sudah urusi saja pondok anda. Jangan ganggu kami!!!” sahut orang-orang itu.

“anda tahu apa tentang makam ini??!!”

“justru anda yang tidak tahu apa-apa tentang makam ini!!!” balas salah satu santri Kiai Rahmat.

Suasana kian memanas, perdebatan kian menyengit. Bahasa yang dilontarkan satu sama lain terdengar menyimpan gejolak marah. Hingga akhirnya salah satu dari rombongan yang tak kuasa menahan amarahnya melempari Kiai Rahmat dengan batu. Untunglah batu itu hanya membuat kening Kiai Rahmat memar sedikit, tapi peristiwa tersebut memicu rombongan lainnya untuk berbuat hal yang sama dengannya. Tak ayal lagi baku hantam antar keduanya tidak terelakkan lagi. Beberapa santri berusaha melindungi kiainya dengan tameng tubuh mereka. Sedangkan santri lainnya berusaha menenangkan rombongan itu walaupun nihil hasilnya karena hal tersebut malah membuat mereka semakin berang. Kiai Rahmat sembari melindungi dirinya memerintahkan santri-santrinya untuk kembali ke pondok. Ia tetap yakin bahwa jalan mereka masih panjang, terjal dan berbatu. Ia tetap yakin bahwa suatu saat mereka akan berhasil mengajak masayarakat untuk sadar kembali. Ya, ia tetap yakin.

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

2 Balasan ke MAKAM SANG …..

  1. saifullah berkata:

    meminta pada orang mati sebenarnya berdasarkan hadist-hadist ( walaupun hadistnya tidak mencapai derajat shahih atau hasan-bahkan oleh al-albani dinilai dho’if -dari segi ilmu hadist tetapi menurut ilmu ma’rifat ( tasawwuf )dinilai shahih karena dikonfirmasikan langsung kepada nabi Muhammad oleh ahli hadist + ma’rifat billah) oleh orang-orang nahdlatul ulama tidak seluruhnya dilarang dengan batasan meminta tolong sama dengan apa yang dapat dilakukan oleh orang hidup ketika di dunia tetapi dengan batasan-batasan tertentu, misalnya meminta tolong untuk didoakan kepada Allah SWT atas diri peminta karena dianggap orang yang dimintai tolong adalah orang yang lebih dekat kepada Allah SWT. Sedangkan meminta tolong untuk dikabulkan hajatnya hukumnya haram. Yang dianjurkan menjadikan orang sholih yang meninggal sebagai wasilah ( lantaran )
    Adapun tentang hadist yang berisi semua amal orang yang meninggal terputus kecuali 3 perkara, maksudnya:
    orang yang meninggal tadi tidak bisa beramal untuk dirinya sendiri seperti apa yang dilakukannya ketika masih hidup di dunia. Jadi :
    1.orang yang meninggal bisa mendoakan orang yang masih hidup
    2.orang yang hidup di dunia bisa mendoakan orang yang meninggal dan pahalanya sampai. Dalam matan hadist waladin sholihin yad’uulahu berarti : semua orang sholih baik laki-laki dan perempuan(kata walad digunakan untuk lk2 dan pr), tidak dianggap sholih anak yang tidak mendoakan orang tuanya.

  2. ngakusantri berkata:

    terima kasih komentarnya.saya paham persis apa yang dimaksud mas saifull. dalam cerpen ini saya bermaksud untuk mengemukakan diantara kita ada yang khilaf dengan memposisikan diri kita ketika berdoa di depan maqam. saya sendiri pun termasuk orang yang masih menjalankan tradisi itu.
    cerpen ini berdasarkan kisah nyata disebuah tempat yang masih di dominasi oleh tradisi kultural keagamaan. salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh warga di tempat itu adalah ziarah kubur pendiri tempat tersebut (yang membabat hutan). padda awalnya saya mengikuti kegiatan tersebut dengan biasa-biasa saja.hingga akhirnya saya terusik untuk mendapatkan info bahan tulisan saya selanjutnya. awalnya cuma sekitar sejarah desa tersebut,,tapi ketika pertanyaan berlanjut dan dijawab dengan kehebatan tokoh tersebut, saya kemudian bertanya tentang seberapa penting tokoh tersebut bagi masyarakat setempat?
    yang saya dapatkan adalah masyarakat setempat meyakini bahwa sang tokoh tersebut merupakan tokoh yang berperan penting bagi keamanan desa tersebut. sehingga perlu diadakan media komunikasi agar mereka diberi apa yang mereka inginkan sehingga garus ada syarat untuk mediasi tersebut seperti sajen,kemenyan, dll.
    disinilah perlu kita garis bawahi. berziarah diperbolehkan bila kita bisa memposisikan bahwa orang yang diziarahi itu adalah perantara (wasilah). tapi bisa jadi membawa madhorot bila kita justru mengkultuskan tokoh tersebut sehingga dikhawatirkan kita punya persepsi yang salah kemana kita harus memohon. hukum boleh atau tidak itu relatif dengan situasi. sebagaimana nabi melarang kemudian membolehkan hukum ziarah makam. saya tidak melarang dengan adanya cerpen ini,, ini cuma menjadi tadabbur bersama untuk memahami kembali bagaimana kita beribadah dalam keseharian. disinlah peran santri yang merupakan ilmuan agama yang paling merakyat dan bersatu dengan budaya masyakat. jangan sampai santri yang menimba ilmu dalam hitungan tahun dipesantren hanya menggunakan ilmunya untuk pribadi dan keluarga.santri sangat dibutuhkan sebagai agen masyarakat yang mengkontrol kondisi masyarakat. bila tidak bisa menyeru masyarakat untuk melakukan perubahan,,,barulah ia hanya melakukannya pada diri sendiri. dan bentuk tulisanku ini merupakan usaha terkecil yang aku mulai untuk melakukan seruan itu,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s