Melawan Arus


Semua orang pasti setuju bahwa ijazah adalah bukti mutlak seseorang dinilai berpendidikan. Karena hampir semua elemen masyarakat kita begitu yakin dengan keampuhan legalitas ijazah dalam kehidupan mereka, baik menaikkan status, pangkat, bahkan kondisi perekonomian mereka.

Lain halnya dengan Wees Ibnoe Sayy yang kerap disapa kak wes beserta  istri ibu Lusiana sabariah, mereka beranggapan bahwa pendidikan keluarga, pendidikan masa depan. Sekolah inti adalah rumah, guru utama itu ibu dan ayah. Mereka yakin bahwa Sekolah yang berasal dari bahasa latin skhole, scola, scoolae atau skhola yang memiliki arti mengisi waktu luang dengan belajar (Skorates). Sehingga sekolah tidak terikat ruang dan waktu yang di butuhkan adalah kemauan belajar dan ada yang mengajari sehingga siapa saja bisa terlibat didalamnya apalagi ijazah. Adanya Keprihatinan terhadap dunia pendidikan di Indonesia  membuat kak Wes beserta istri mencoba memberikan alternatif pendidikan yang efektif. Hal tersebutlah yang melatar belakangai tercetusnya home education yang dipelopori oleh kak Wes dan keluarga.

awalnya home education ia terapkan pada anaknya Nur Hamdi, dan hasilnya tanpa mengenyam pendidikan formal Nur Hamdi memiliki kemampuan yang luar biasa. Diusia yang tergolong muda Nur Hamdi telah mampu memiliki karya yang berupa buku kumpulan puisi dan cerita singkat yang di beri judul Mirip Ayam. Buku tersebut mulai ditulis semenjak berumur 8 tahun merupakan representatif capaian pemahaman terhadap kehidupan dan makna hidup. Buku tersebut di launcing bersamaan dengan buku kedua orangtuanya pada tahun 2007 dan dibarengi dengan pameran fotografi karya Nur Hamdi. Ibu lusiana menerbitkan buku yang berjudul Jangan Malu Berkata Saya Ibu Rumah Tangga, sementara Kak Wes menerbitkan buku Panduan belajar mendongeng yang di beri judul Mari Mendongeng. Bagi kak Wes mendongeng merupakan media komunikasi dan transformasi nilai tentang kebenaran dan kebaikan. Melalui dongenglah kak Wes memberikan pendidikan kepada anak-anak hingga ke benua Asia dan Afrika.

Kak Wes beserta istri ibu Lusiana kini mulai gencar mensosialisasikan home education sebagai pondasi kecerdasan anak. Melalui  seminar, sarasehan, dan pelatiahan ibu-ibu PKK diharapkan mampu memberikan motivasi kepada para orang tua untuk berpartisipasi dalam mendidik anak. Upaya yang mereka lakukan tidak berhenti sampai disitu, mereka pun kini mulai merintis multifersitas rumah dongeng indonesia. Rumah dongeng indonesia merupakan perpaduan dari home education dan pendidikan pesantren.

 

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s