SURAT UNTUK SAHABAT (part II)


Sahabatku,,,,

Terima kasih kamu mau sedikit peduli dan memahami kondisiku.  Terima kasih juga telah sedikit perhatian atas kesibukannku akhir-akhir ini. namun, apa yang selama ini aku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Aku sudah memprediksi semua ini akan terjadi, cepat atau lambat. Dan akhirnya emailmu terakhir menegaskan akan kekhawatiranku selama ini. aku tidak menyalahkan atau menyesali apa yangsemua terjadi ( mungkin terlalu sentimentil kedengarannya. Atau mungkin kamu beranggapan aku terlalu egois dengan berkata seperti ini.) karena ini semua hanya menjadi bagian dari pencarian kebenaran ideologi yang kita percaya. Bila kita bicara ideologi itu artinya kita bicara kanan dan kiri.

Aku merasa bahwa diskusi ini tidak lain dari pertarungan ideologi. Dan aku sempat ragu dengan kemampuanku sendiri.  Namun disamping itu aku menikmati diskusi ini. mungkin kesempatan inilah aku bisa skeptis dengan apa yang selama ini aku anggap benar.  Semoga saja kita bisa menemukan kebenaran atau bertambah yakin atas apa yang selama ini mengisi ruang keyakinan kita.

Sahabatku,,,,,

Aku selalu bingung untuk memulainya darimana. Begitu banyak yang bergumul di otakku sampai kata-kata itu menjadi sulit untuk keluar secara tertib merangkai sebuah kalimat. Aaahhhhh…….. Anggap saja aku salah tentang demokrasi (karena aku yakin kamu beragumen secara objektif. Ini terlihat dari emailmu yang terakhir) dan kalian mewujudkan kafilah atas dasar menegakkan  nilai-nilai islam. Timbul pertanyaan dalam benakku, seperti apa islam yang ideal dianut oleh mu? Bukankah terasa jauh perbedaan jurang itu. Kamu dengan pahammu, aku dan masyarakat umumnya yang abangan.

Sahabatku, Apakah kamu tahu bahwa mental bangsa indonesia belum siap untuk sebuah perubahan? Coba kita lihat ke belakang. Sejarah sudah mencatat bahwa indonesia merdeka sejah1945. Para pendiri kita sepakat untuk menggunakan sistem pemerintahan republik sebagai bentuknegara kita. Tapi apa yang terjadi nyatanya kita baru menhyadari negara kita adalah republik secara benar-benar saat reformasi mulai berguncang di seluruh pelosok negri kita. Mental kita selama 53 tahun masihlah mental bernegara kerajaan. Bahkan tidak dielakkan masih banyak diluar sana yang mendambakan jenis kepemerintahan pra reformasi.

Orde baru yang digulingkan oleh mahasiswa pada tanggal 8 mei 2008, sejatinya telah digulingkan terlebih dahulu oleh IMF karena sebenarnya soeharto sendiri sudah tidak punya uang sepeserpun untuk menjalankan kepemerintahan ini. untuk menggulingkan sebuah kepemerintahan tidak cukup hanya doronan internal saja, sahabatku. Melainkan dorongan eksternal yang selama ini menjadi topangan kita secara tidak langsung. Ini bisa dilihat apa yang terjadi pada pemerintahan thaksin di thailand saat ini. vietnam beberapa bulan yang lalu, dan perang irak beberapa tahun yang lalu.

Setelah reformasi tahun 1998, banyak diantara kita yang mendengungkan jenis kepemerintahan demokrasi. Wacana-wacana mulai diangkat ke kalangan civitas. Menjadi silabus-silabus perkuliahan para akademia, politisi, hingga negarawan. Apakah kita paham secara utuh apa itu demokrasi? Aku berani mengatakan bahwa kurang dari 1/5 bangsa indonesia yang memahami apa itu demokrasi.

Namun itu tidak seberapa sahabatku,,, selama ini kita hanya belajar dari lembar-lembar buku yang kita dapat dari sekolah. Kita hanya mendengar kata-kata ini kala guru kita atau seminar yang kita ikuti. Namun apakah kita siap untuk berdemokrasi?

Di lapangan justru kita mendapati banyak orang yang justru memanfaatkan sistem demokrasi demi keuntungan pribadinya. Rakyat justru semakin sengsara dan dipinggirkan. Aku bahkan tidak isa mengelak dari kenyataan ini. tapi ini semua bukan salah sistem yang kita gunakan dalam bernegara.

Maksudku, kita belum siap secara mental mennghadapi perubahan setelah sekian lama jiwa kita jiwa kekerajaan dan tiba-tiba saja 53 tahun terakhir menjadi republik dengan bumbu rasa demokrasi konstitusional. Jangan salahkan sistem yang tengah berjalan, melainkan salahakan orang-orang yang memakai kesempatan  diatas masyarakat kita yang masih bodoh ini. proses ini masih panjang untuk menjadi negara yang dicita-citakan sahabatku.

Aku senang-senang saja bila seluruh dunia mengetahui islam dengan baik. Aku akan berdosa bila aku mengingkarinya, sahabatku. Tapi aku tidak sependapat bila indikator keberhasilan ini dilihat dengan berdirinya negara islam di indonesia. Citra negara islam dengan sendirinya akan terbentuk bila masyarakat kita sendiri bisa merefleksikan nilai-nilai islam dalam kesehariannya. Bukan melalui deklarasi berdirinya negara islam.

Aku juga tidak tidak menyangkal bahwa demokrasi ini merupakan buah dari pemikiran orang-orang kapitalis, dan memang budaya yang berkembang di indonesia yang berhasil diterapkan oleh zaman soeharto adalah musyawarah mufakat. Tapi menurut pemikiranku yang masih belum seberapa ini, beranggapan justru akan sulit bila pengambilan keputusan dilaksanakan secara mufakat penuh. Sulit dengan kondisi kita yang unik ini. apalagi kita tidak pernah tahu apa yang ada dibalik pemikiran satu orang dengan orang lainnya. Dalamnya laut dapat diukur tapi dalamnya hati siapa yang tahu? Kita pun tidak bisa menerapkan kekhalifahan murni di indonesia seperti halnya demokrasi yang kita adopsi dari luar. Ada tiga jenis demokrasi secara garis besar yaitu demokrasi langsung (klasik/asli), demokrasi perwakilan, demokrasi satu partai(sentralisme demojrasi yang biasa dianut oleh negara-negara komunias). Sedangkan bila ada demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila itu, merupakan penurunan dari ketiga jenis. Memang demokrasi mengusung suara individu. Tapi bukan sembarang suara individu yang diterima. Melainkan suara individu yang mengusung kesejahteraan dan kepentingan publik. Dan pelaksanaannya akan dilindungi hukum tertulis secara garis besar sedangkan pelaksanaannya menyesuaikan dengan kondisi masing-masing individu sebuah kelompok. Itulah makanya muncul penerapan secara otonomi dalam implikasinya.

Namun mengapa setelah demokrasi ini dilaksanakan, masih banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaannya? Para pejabat banyak yang melakukan korupsi, money politik di setiap kampanye? Atau tingkah anggota DPR yang sudah menjadi rahasia umum? Kemudian lahirnya konsep republik klasik yang berangkat dari kritik aristoteles atas demokrasi. Ketika kekuasaan berada di tangan pemegang suara terbanyak dan kekuasaan ini menggantikan hukum, akan muncul para penghasut rakyat yang menjadikan demokrasi bergeser kepada depotisme. Mulai digunakannya sistem musyawarah dan DPR dengan malfungsi karena belum memiliki desain yang konkrit dan pembaian tugas yang jelas.

Demokrasi yang berjalan di negara kita adalah demokrasi abu-abu yang belum ditemukan formulasinya. Belum ada blue print dengan visi dan misi yang jelas akan dibawa kemana arahnya bangsa kita ini. sehingga apa yang terjadi? Kita learning by doing yang kebablasan.

Tidak bisa disalahkan semua ini, karena kita memang sedang belajar. Toh demokrasi yang kita anut ini sudah mengalami banyak perubahan yang mencoba menyesuaikan dengan kondisi bangsa kita. Pembatasan dan pemisahan kekuasaan (separation of power)model perwakilan, kepanjangan kedaulatan, mekanisme problem keseimbangan kekuasaan memaksa dan kebebasan individu.

(aku tahu, dahimu berkerut mencoba mencerna apa yang aku tulis. Oleh sebab itu aku menyarankan untuk dibaca berulang kali. Akupun yakin kamu masih bersikukuh dengan pendapatmu sendiri. Ayolah akui saja, heheheh)

Jadi aku menegaskan bahwa sistem yang kita anut bukan pure demokrasi karena demokrasi yang murni itu tidak toleran, tidak adil dan tidak stabil. Mungkin kamu akan bertanya mekanisme pemungutan suara sekedar memiliki orientasi keuntungan pada wilayah pasar, bukankah begitu maksudmu? Kemudian meski memperjuangkan persamaan politik, tetap saja ada kesenjangan kelas dalam pelaksanaannya.

Ah sahabatku, aku puh susah untuk mencari jawabannya. Tapi sekali lagi kita bangsa yang mesti belajar banyak, selama SDM kita semakin menurun kita belum bisa memecahkan sendiri masalah kita sendiri. Selama kita masih bisa dengan mudahnya dihasut kita akan terus dipecah belah dan tidak punya pendirian.

Dan prediksiku bila kita mengganti sistem pemerintahan kita entah itu dengan kafilah, daulah, monarki, dan sebagainya peristiwa ini akan kembali terjadi karena masa transisi perubahan gaya gesek selalu besar. Masyarakat kita akan mengalami kebingungan arah kepemerintahan. Aku takut dengan kebingungan ini akan melahirkan rasa antipati untuk menyelenggarakan kepemerintahan. Dan akibatnya akan terjadi kevakuman dalam pemerintah.

Ingat sahabatku, bahwa dalam sebuah negara, akan selalu ada kelas secara tidak langsung. Dan akhirnya hanya golongan eksekutif sajalah yang menjalankan kepemerinthan ini. sedangkan golongan mayoritas (menengah kebawah) yang selama ini tidak punya kases untuk menikmati posisi politik untuk memperjuangkan kepentingan mereka hanya akan menjadi objek dari terselenggaranya sebuah pemerintah. Dan yang terjadi di negara ini banyak orang yang berusaha menggunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri. Dan akibatnya saat ini demokrasi hanyalah menjadi sebuah tujuan akhirbukan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Maaf bila aku membalas suratmu lama sekali. Ternyata aku memang tidak bisa memungkiri bahwa selama pemilu hingga sekarang pun aku menjadi sibuk dengan urusan-urusan tetek bengek. Ngomong-ngomong agendaku yang masih rancu adalah mengurus sejumlah pelanggaran partai, dimasalah penyalahgunaan fasilitas pemerintah, money politik, dan dana kampanye. Dan partai yang kamu usung merupakan salah satu parta yang masuk dalam list. Maaf aku tak bermaksud menjelek-jelekan partai manapun. Aku hanya bermaksud untuk menunjukan padamu bahwa tidak ada satu pun partai di indonesia yang tidak ‘kotor’ dalam pelaksanaannya. Jangan melihat dari satu sisi, sahabatku. Ngomong-ngomong kader partaimu memang cerdik dibandingkan dengan kader dari partai yang lain. sampai-sampai semua temuan pelanggarakan selalu susah untuk diusut karena terlalu rapi pelaksanaannya.

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Satu Balasan ke SURAT UNTUK SAHABAT (part II)

  1. bamsparker berkata:

    assalamualaikum.. jadi ingin diskusi lagi.. kusadari dulu aku masih awam, tapi beruntung banget ketika itu bisa bertukar pikiran denganmu Ta..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s