SURAT UNTUK SAHABATKU (PART 1)


Sahabatku,

Sejak awal aku sudah memberitahu padamu, aku berbeda pandangan denganmu. Dari kacamata yang kau gunakan untuk menyaring penglihatan, dari pijakan tempat aku berdiri dengan keyakinanku, hingga kendaraan yang aku gunakan untuk melangkah megerakan tradisionalisju tempat pemberhentianku. Aku tidak ingin perbedaan ini menjadi pemicu jurang persahabatan diantara kita. Apalagi jurang itu bernama ideologi. Ideologi itu bagaikan racun yang mengalir dalam hentakan jantung yang berdetak, berdetak dalam setiap hentakan jantung yang menghidupi kita tiap detiknya.

Namun sahabatku, berbeda denganmu yang baru mengenal dengan gerakan radikal sejak menginjakkan kaki di bangku kuliah, aku mengenal gerakan tradisionalis sejak aku lahir. Dalam setiap inchi kehidupanku, telah termaktub dengan jelas ajaran-ajaran gerakan tradisionalis. Aku sekolah dilingkungan yang berpaham gerakan tradisionalis, aku tinggal dipondok yang hampir bisa dipastikan beraliran gerakan tradisionalis (maaf bukan aku bermaksud membeda-bedakan tapi kenyataan inilah yang terjadi padaku. aku yakin kamu tahu maksudku), hingga kini aku masih tinggal dilingkungan gerakan tradisionalis. Bahkan aku menjadi kader dibeberapa organisasi berasaskan gerakan tradisionalis.

 

Sahabatku,,,,,,

Berat rasanya untuk menyampaikan pemikiranku padamu. Apalagi aku bukan yang ahli untuk berdebat dalam suatu diskusi. Pengetahuanku tentang gerakan tradisionalis sendiri masih bisa dikatakan hanya seujung kuku. Kemampuanku menganalisa masih dikatakan belajar merangkak. Masih banyak yang menjadi daftar pertanyaanku. Namun hingga kini aku bersyukur aku masih dikendaraan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja kamu selalu mengajakku untuk membicarakan yang sebenarnya tidak akan usai kita diskusikan (bila tidak ingin dikatakan debat).

 

Sahabatku,,,,,,,

Banyak umat islam yang memandang bahwa tanah airnya adalah satu, yaitu wilayah kekuasaan islam. Agama masih dilihat sebagai tanah air dan kewaganegaraan. Sehingga kita seringkali merasa asing dengan orang-orang yang tidak sepaham dan seagama dengan kita. Hal ini tejadi karena disentegrasi politik islam. Banyak oang yang mulai melupakan tujuan aslinya. Islam yang mejadi tujuan dengan politik sebagai kendaraannya ataukah sebaliknya politik yang menjadi tujuan dengan islam sebagai kedaraannya. Kita tidak bisa membaca pikiran orang masing-masing. Membedakan manakah yang memiliki tujuan murni. Tidak hanya PKB, PPP, PKS atau P lainnya yang berasaskan islam. Aku tidak bisa mengklaim bahwa aku benar kamu salah (semoga saja kita selalu diberi petunjuk oleh allah dalam mengambil setiap keputusan). Namun kamu perlu tahu satu hal sahabatku, saat ini tidak ada terasi yang tidak bau. Sama halnya dengan politik yang dikendarai sebuah organisasi bernama partai, tidak ada partai yang benar-benar bersih saat ini termasuk partai yang kamu usung. Jadi jangan sampai kita melihat sebuah benda hanya dari satu dimensi. Dunia yang kita tinggali ini memiliki jutaan dimensi yang tidak bisa dikatakan salah. Tergantung dari mana kita mengambil ketegasan dan pijakkan yang kita gunakan.

 

Aku berkata bukan karena aku sok tahu, sahabatku. Aku bukan manusia sempurna. Namun aku hanya berusaha skeptis terhadap sesuatu. Mencari bukti dan landasan aku berpegang.

 

Dalam kacamata pandanganku, dengan menganut demokrasi bukan berati kita menganut pola pikir kaum kapitalis (aku bertanya padamu mengapa kamu begitu anti dengan orang amerika? Padahal orang amerika pun ada yang seiman dengan kita. Sama-sama berpaham islam. Namun kehadiran mereka tertutupi oleh kesalahan-kesalahan kelompok orang yang bertentangan iman dengan kita), justru sebaliknya kita tidak sadar bahwa orang-orang barat banyak yang menganut ajaran islam. Sebenarnya demokasi adalah produk pemikiran orang islam yang sayangnya dipahami dan diklaim oleh-orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kita terlalu fokus membentuk kejayaan secara kepemimpinan politik sehingga kita melupakan persiapan menuju kejayaan itu harus dimulai dengan membentuk peradaban dan kebudayaan di antara umat islam itu sendiri. Sama halnya kita yang tidak mengetahui bahwa cerita ciptaan hans christian Anderson adalah saduran dari karya Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Ghazali dalam bukunya muhtashor ihya ulumuddin. Adakah yang memprotes? Produk pemikiran orang islam sebenanya sudah menjadi rahasia umum diakui kehebatannya oleh orang-orang barat. Sepeti buku kedokteran yang sampai saat ini masih dijadikan panduan orang-oang barat, al qagerakan tradisionalisn fi al-thibb karya Ibnu Sina. Adakah yang memberikan penghargaan pada orang-orang islam ini seperti halnya penghargaan yang diberikan oleh Thomas Alfa Edison, Marie Curry, atau lainnya? Tidak ada, sahabatku. Kita masih diam ditempat sibuk memikirkan kejayaan yang bersifat maya.

Begitu pula saat Rosulullah wafat, kita justru sibuk menunjuki orang-orang yang dirasa cocok menggantikan posisi beliau untuk menjadi pemimpin yang membawa islam selanjutnya. Kita menjadi lupa dengan substansi pesan terakhir yang diucapkan rosulullah menjelang kematiannya yang masih saja mengkhawatirkan keadaan umatnya.

Kita mulai terlupakan dengan substansi yang diajarkan oleh beliau dan secara terpaksa memahaminya secara tekstual. Padahal perubahan peradaban ini tidak cukup dengan memahaminya secara tektual saja, melainkan kontekstual.

Baiklah kalau kamu masih bersikeras mengatakan bahwa demokrasi berbeda dengan musyawarah/syura, aku tidak bisa memaksakannya padamu sahabatku, sama halnya dengan kamu mengatakan bahwa demokrasi merupakan produk kapitalis. Namun berapa banyak perbandingan orang-orang sayap kiri dengan sayap kanan? Bagaimana dengan masalah advokasi dengan politik ke luar negeri? Maafkan aku yang terlalu kasar mengatakannya. Hanya saja intinya adalah dikhawatirkan kita hanya bisa melihat pelaku kejahatan secara objektif tidak subjektif. (aku tidak mengatakan bahwa aku menyetujui segala tindak kejahatan) seperti halnya yang dilakukan oleh khalifah harun ar-rasyid yang terkenal adil dalam memutuskan. Beliau tidak segan-segan menyakan alasan mengapa seorang pencuri melakukan pencurian. Beliau terhenyak dan memaafkan pencuri tersebut ketika mengetahui alasan ia mencuri tidak lain karena keluarganya yang kelaparan. Itupun beliau memberlakukan sistem wazir yang setingkat dengan senat atau DPR pada masa sekarang.

 

Sahabatku,,,,

Bagaimana bisa nilai-nilai islam bisa dimengeti dan dipahami oleh orang-orang non islam bila tidak diterjemahkan secara universal. Seperti halnya pancasila, proses akulturasi kebudayaan dengan nilai-nilai islam, dan sebagainya. Temanku yang beragama non islam sempat menanyakan padaku apa artinya Allahu Akbar. Aku mejawabnya dengan arti sesungguhnya, allah maha besar. Tapi apa yang terjadi? Ia tidak percaya. Selidik punya selidik ia beranggapan bahwa itu kata kekerasan yang sering kali dipakai oleh saudara-saudara kita beralian keras (FPI) ketika melakukan aksi frontal tidak berkeprimanusiaan. Ironi sekali ucapan agung itu diucapkan manakala mereka merusakkan tempat ibadah teman-teman kita yang salah dalam memahami islam. Kalimat yang mulia itu dipakai untuk menghukumi orang-orang yang belum terbuka hatinya.

Bagaimana dengan kebudayaan, betapa tidak sopannya kita yang tidak menghargai sunan kalijaga yang membawa islam melalui proses akulturasi itu, sahabat. Beliau mengenalkan islam melalui gending-gending yang bernafaskan islam, mengenalkan nilai islam dengan cara menyisipinya dalam ritual kejawen yang berakar kuat di pulau jawa. Padahal bila kita lihat lebih jauh, semua gending, semua proses ritual itu intinya mengEsakan allah. Kalau pada saat ini banyak orang yang salah menempatkannya (menjadi beda maksud pelaksanaannya) itu merupakan kesalahan kita pribadi yang lemah dalam berfikir.

Kita seringkali susah membedakan mana agama mana budaya. Karena islam sendiri turun di negara yang tidak hampa budaya (jazirah arab). Toh kebudayaan itu hanya dijadikan senjata untuk masuk secara damai.

 

Sahabatku,,,,

Kadangkala kita menemukan kesulitan dalam menjalankan perintah agama kita. Ini bukan karena apa-apa, melainkan karena islam yang sempuna diterima dan diterjemahkan oleh kita manusian yang tidak sempurna. Hingga akhirnya akan terjadi ketimpangan dan perbedaan dalam menterjemahkan nilai-nilai dan syariat islam.

Seperti halnya menerapkan sistem khilafah. Apakah sistem itu sesuai dengan kondisi negara kita? Toh, kita bisa melihat sistem khilafah itu sendiri mengalami kegagalan ditengah jalan. Mulai dari iri, dengki, sampai faktor yang besifat politik sekaligus.  Ini merupakan sebuah indikasi, bahwa keberhasilan sebuah sistem negara bukan ditentukan oleh jenis sistem yang digunakan, melainkan kesadaran masyarakat dalam menjalakan sistem negaranya.

Bila kamu melihat demokrasi banyak madorotnya dilihat dari kegagalan para pejabat dalam memerintah, itu bukan karena salah sistem yang kita anut, melainkan kesalahan orang-orang yang menjalankan misinya dengan mengatasnamakan demokrasi sebagai tunggangannya.

 

Benar sahabatku, bila Demokrasi itu secara singkat diartikan 50 % tambah satu dianggap mufakat. Begitu pula dengan mufakat seperti yang kau tulis pada artikel sebelumnya. Namun sahabatku, bila kita hal itu diterapkan di negara kita, kata mufakat dengan sistem musyawarah yang akan sulit kita temukan. Karena kita akan menemukan banyak otak, keinginan, kondisi, dan pemahaman yang berbeda. Itulah alasannya dilaksanakan otonomi daerah dalam pelaksanaan demokrasi.

 

Sahabatku,,,,,

Kita semua tahu bahwa dalam melaksanakan syariat islam kita berpedoman pada al-quran dan hadis. namun dalam pelaksanaan sehari-hari kita bisa menggunakan ijma bila kita menemukan sesuatu yang tidak ditemukan di masa rasulullah. Dalam keyakinan yang aku pegang dalam be-ijma kita menggunakan aswaja sebagai manhajul fikr (landasan pikir).

 

Sahabatku,,,,,

Permasalahan ini tidak akan pernah usai untuk dibahas. Mungkin hanya menunggu waktu jawabannya. Maaf bila dalam penjelasannku terdapat hal-hal yang tidak bekenan. Begitulah yang namanya diskusi.

 

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s