PETANI BERSARJANA TANPA LAHAN KOSONG


Sistem pendidikan dinegara kita adalah mengikuti kondisi lingkungan yang sedang terjadi. Seperti fenomena yang terjadi baru-baru ini, disisi lain fakultas pertanian mengalami penurunan minat, fakultas geografi justru mengalami peningkatan pasca gempa dan tsunami beberapa silam. Itu artinya masyarakat sekarang menilai pendidikan dari segi kebutuhan dan pasar. Jadi bisa saja bila besok terjadi booming dengan kondisi kelautan negara kita, justru fakultas perikananlah yang akan mendominasi. Seperti yang dikatakan oleh cak nun dalam bukunya Jejak Tinju Pak Kiai, beliau mengatakan bahwa orang indonesia itu gumunan, latah dan gampang dibikin mabuk. Cukup diserbu dengan iming-iming yang memabukkan niscaya langsung ngekor bagai kerbau dicocok hidungnya. Peristiwa seperti ini seolah mengamini apa yang dikatakan cak nun.

Apa kepercayaan masyarakat hanya berdasarkan kebutuhan pasar seperti yang barusan dipaparkan? Menurut saya tidak juga. Coba kita lihat bagaimana andil pemerintah dalam mensejahterakan orang-orang yang bekerja di bidang pertanian. Belum begitu menggembirakan. Harga gabah yang kian anjlok tidak sebanding dengan harga pupuk yang kian mencekik di leher. Ketika musin tanam tiba, mendadak saja pupuk-pupuk tersebut menjadi langka. Kemana orang-orang yang bergerak dibidang pertanian? Masih ingat kasus padi super toy yang menuai banyak kontroversi? Kerugian besar-besar melanda para petani. Belum lagi masalah lahan yang kian menyempit karena pembangunan yang kian meluas hingga ke pelosok desa. Belum ada payung hukum yang melindungi nasib petani-petani kita saat ini. Belum ada kepastiyan bagi para pengolah bumi kita.

Wajar saja bila minat masyarakat ke bidang pertanian semakin menurun. Mereka berpikir apa yang mereka lakukan bila tidak ada lahan yang mereka tangani. Apa yang mereka kerjakan bila semua permasalahan pertanian selalu dilihat dari sudut pandang bisnis dan bisnis. Untuk apa menjadi sarjana bila kerjanya hanya nyangkul disawah tanpa diberi kesempatan untuk memilih kebijakan yang terbaik untuk mereka?

Dari sinilah kita bisa menilai bahwa sitem pendidikan di negara kita dibentuk bukan untuk mencetak lulusan yang dibutuhkan melainkan mencetak lulusan yang ‘membutuhkan’ lowongan pekerjaan. Kita cenderung mengikut trend yang berkembang ketimbang memprediksikan apa yang akan terjadi di depan. Seolah-olah pendidikan saat ini semata merupakan komoditas bisnis yang menguntungkan. Disamping itu kompetensi kelulusan kurang dipertimbangkan sehingga lulusan seperti apa yang akan dicapai seorang mahasiswa setelah menyandang gelar sarjana. Masyarakat masih menilai pendidikan yang akan ditempuh dari segi prospek pekerjaan. Tapi apa yang kita lihat dilapangan? Banyak dari lulusan pertanian bekerja bukan dibidang pertanian. Dimana para lulusan pertanian ketika mereka dibutuhkan?

Pengubahan kurikulum yang dijadikan acuan juga perlu dipertanyakan. Kenapa baru dirombak sekarang? Kenapa tidak dari awal ditinjau menurut kebutuhan. Penggabunggan prodi hanya menunjukan bahwa selama ini spesifikasi kurang efektif dan terlalu detail. Tidak disesuaikan dengan kondisi yang dibutuhkan lapangan dimana saat ini persaingan pekerjaan semakin tinggi. Selama ini mahasiswa hanya dididik untuk mengetahui dan mempelajari tapi tidak diajari bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaiamana mahasiswa dapat mandiri tanpa harus mengandalkan lowongan pekerjaan yang kian sulit. Bukan lulusan yang siap diajari tapi siap terjun perang.

Jadi saran saya kepada akademisi, bila ingin fakultas pertanian kembali diminati, buat isu mengenai pertanian dulu sehingga masyarakat tertarik. Buat yang bombastis biar makin diserbu. Atau buat fenomenal agar jadi legenda. Silakan pilih yang mana.

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s