MEMBUMIKAN INDUSTRI PRIBUMI


“Aset terpenting dari sebuah Negara adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mendifinisikan masalah, menciptakan solusi, dan menambah nilai tambah (creative)” itulah yang dikatakan oleh Robert B reich, sekretaris mantan presiden amerika serikat Bill Clinton urusan buruh. Karena dengan SDM lah, kita mampu mengubah sampah menjadi aset, bukan sebaliknya aset yang menjadi sampah (suparno, erman; xv : 2009).

Selama ini saya selalu bertanya apakah benar orang-orang China lihai dalam berdagang? Apakah benar pekonomian di Indonesia di dominasi oleh orang-orang keturunan China yang dikenal lihai berdagang dimanapun ia berada? Sungguh luar biasa mereka ini, padahal bila dilihat dari jumlah merreka yang minoritas di Negara kita, mereka justru membuktikan bahwa mereka bisa tidak bisa dipandang sebelah mata. Bukan tanpa alasan penulis mengatakan seperti demikian, hal ini bisa kita buktikan dengan mengamati lingkungan tempat tinggal disekitar kita. Bisa dikatakan bahwa mereka hampir ada disetiap daerah bahkan hingga ke pelosok negri kita. Mayoritas mereka hidup dan sukses dari berdagang. Dimanapun mereka tinggal, bagaimanapun kondisi lingkungannya, apapun yang menjadi komoditas dagang, mereka selalu bisa survive. Tidak hanya di Indonesia saja, melainkan di seluruh pelosok dunia, China bisa dikatakan menguasai hampir seluruh perdagangan di dunia.

Itu sekilas gambaran umum mengenai perekonomian dari kelompok etnis China. Bagaimana dengan kondisi perekonomian bangsa kita? Bisa dikatakan perekonomian kita masih merangkak menuju posisi yang lebih baik. Apalagi sejak krisis global yang menghantam tempo lalu, harus diakui krisis global tersebut cukup memberikan pengaruh bagi perekonomian bangsa kita. Bicara tentang masalah perekonomian bangsa, maka secara tidak langsung kita akan bicara tentang ketenagakerjaan, industri, ketahanan dan kebijakan pemerintah,dll. Hal ini dikarenakan perekonomian merupakan salah satu ruh yang menentukan kemana arah pembangunan negara kita. Seperti jumlah pengangguran berijazah kian tinggi karena banyak perusahan yang kian selektif dalam mempertahankan pegawai mereka merupakan salah satu persoalan yang tak kunjung selesai. Bagaimana tidak, saat krisis global menghantam mereka kekurangan pasokan pesanan padahal  perusahaan harus menghidupi karyawan yang tidak sedikit jumlahnya. Sehingga tak jarang mereka harus melakukan pemangkasan tenaga kerja ketimbang berakhir gulung tikar.

Namun masalah pengangguran ini tidak semata-mata dikarenakan krisis global saja. Di tengah sempitnya ketersediaan lapangan kerja, tak banyak orang yang berani mengambil pilihan untuk menciptakan peluang usaha. Masyarakat lebih cenderung tertarik menjadi pegawai kantoran terutama PNS yang sifatnya formal ketimbang menjadi pengusaha. Padahal tiap tahunnya, sector formal hanya membuka peluang kerja yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang ada dilapangan. Bahkan cenderung menjadi TKI luar negri ketimbang TKI dalam negri. Sedangkan saat ini persoalan TKI luar negri yang masih menyimpan berbagai macam masalah belum juga terselesaikan. Walaupun kita tidak bisa memungkiri bahwa para TKI inilah yang justru menyumbangkan pendapatan devisa terbesar ke dua setelah sektor pariwisata. Perlu kita ketahui bahwa di sektor formal seperti ini justru tidak terjadi proses produksi yang mampu meningkatkan perekonomian negara secara signifikan. Belum lagi masalah rendahnya daya beli masyarkat kita. Hal ini bisa menjadi indikasi ada yang salah dengan sistem perekonomian yang diterapkan oleh pemerintah kita. Pemerintah salah menempatkan posisi sehingga berdampak rusaknya tatanan sosial yang ada. Seperti munculnya mal-mal besar yang mengancam keberadaan pasar-pasar lokal. Hingga gaya hidup masyarakat yang kian hedonis dan konsumtif telah mengaburkan identitas diri kita sebagai bangsa yang berbudaya.

Belum lagi, kondisi perekonomian lokal yang kian melemah akibat kurangnya dukungan dari berbagai pihak. Bila kita lihat lebih dalam lagi siapa yang berjasa dibalik perekonomian lokal yang tidak lain adalah kelompok informal seperti pedagang kaki lima (PKL), petani, peternak, nelayan hingga pengusaha domestik yang notabenenya adalah pekerja terbesar di Indonesia. Selama ini mereka hanya di pandang sebelah mata, parsial dan diskriminatif oleh pemerintah, terutama PKL yang didominasi oleh masyarakat urban. Tidak sedikit kota yang masih saja tidak siap menghadapi kedatangan mereka walaupun mereka sendiri tahu hal tersebut tidak bisa dihindari. Padahal mereka pun adalah human capital yang memiliki harkat dan martabat sebagai makhluk sosial[1]. Bandingkan dengan usaha perekonomian yang dilakukan oleh pengusaha dari golongan menengah keatas. Bukan rahasia umum lagi, mereka dengan mudahnya mampu menyelesaikan masalah hanya dengan sejumlah uang ditambah bantuan relasi yang tersebar dimana-mana. Usaha mereka pun berjalan dengan lancar dan berkembang dengan cepat. Ditambah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat, telah menciptakan industri yang cenderung padat modal dan padat teknologi ketimbang padat karya. Sehingga hasil keuntungan yang diperolehpun menjadi hak kolektif pribadi yang menjadikan jurang sosial semakin melebar.

Sudah saatnya kita merubah sistem perekonomian kita ke arah perekonomian yang berbasis kerakyatan, berdimensi wilayah serta berdasarkan kearifan lokal. Penulis beranggapan dengan kebijakan perekonomian yang berpihak pada rakyat diyakini mampu menjadi landasan masyarakat untuk bisa menciptakan industri kreatif dengan lapangan kerja yang mandiri dan terjaga kelestarian lingkungan, perekonomian yang berdasarkan pancasila dengan cara sebagai berikut :

Pertama, menciptakan kesadaran untuk mencintai dan menggunakan produk dalalm negri. Hal ini menjadi titik mula untuk membangun perekonomian berbasis kerakyatan. Sehingga para pelaku industri memiliki keyakinan dan kepercayaan diri bahwa barang produksinya akan diterima oleh masyarakat. dengan banyaknya permintaan dari pasar, secara tidak langsung para pelaku industri ini akan bersaing dan berusaha sekreatif mungkin dalam menghasilkan produk yang diinginkan oleh pasar. Mereka pun akan dituntut untuk meningkatkan kualitas produk mereka sehingga mampu bersaing dengan produk-produk luar negri yang selama ini masih mendominasi. Selama ini, masyarakat lebih mudah termakan oleh merek/brand ketimbang membandingkan kualitas yang sebanding dengan produk dalam negri. Ada semacam paradigma di masyarakat kita bila produk dari merek/brand impor terjamin kualitasnya. Padahal demikian itu tidak bisa diyakini seratus persen. Paradigma seperti itu harus kita ubah dengan mengcounter budaya menggunakan produk dalam neri sebelum bangsa kita menjadi ketergantungan.

Kedua, memberikan kemudahan akses bagi industri domestik untuk berkembang. Mengapa harus industri domestik? Industri ini biasanya relatif lebih tahan goncangan ketimbang industri ekspor ketika krisis melanda. Apalagi bila industri domestik ini berkaitan dengan lifestyle, dengan sentuhan ide kreatif dan keunikan, industri domestik ini bisa menjadi industri kreatif yang tak kalah menguntungkan. Contoh konkrit adalah dinobatkannya kota bandung sebagai kota distro, tidak terlepas dari apa yang disebut industri kreatif. Atau kita belajar dari apa yang dilakukan oleh pak hamzah, salah satu pelaku industri domestik. Berawal dari idenya yang ingin menyuguhkan  jamu  dengan konsep yang lebih modern kepada masyarakat, hamzah pun memutuskan untuk mendirikan The House Of Raminten di daerah  Kota Baru, Yogyakarta. Image jamu yang pahit dan  kampungan sepertinya tidak ada dalam kamus The House Of Raminten. Bukan lagi dinikmati melalui penjual jamu gendong atau ruko khusus jamu seperti pada umumnya, hamzah berusaha agar jamu dapat dinikmati oleh berbagai kalangan bahkan sambil nongkrong bersama teman sekalipun Dengan menggunakan konsep caffe dengan sistem penjualan layaknya angkringan.

Namun bukan hanya konsep unik saja yang ditawarkan, melankan nuansa adat jawa sangat kental dicaffe ini. hal ini bisa kita lihat dari para pelayannya yang menggunakan busana adat jawa yang sudah dimodifikasi. Kentonganpun dikreasikan sebagai alat memanggil para waitress. Tidak hanya itu, the house of raminten memunculkan suasana jawa dengan memutarkan gending-gending, ibu-ibu yang tengah membatik, atau serombongan orang yang tengah belajar tarian klasik jawa. Upaya yang dilakukan oleh hamzah disamping bernilai ekonomi, juga secara langsung melestarikan kebudayaan kita.

Sayangnya, dilapangan industri domestik kurang begitu dilirik oleh banyak orang. Hal ini dikarenakan fakor hambatan (barrier factor) dilapangan sangat besar dan mengancam industri domestik. Seperti pungli, ribetnya debirokratisasi dan deregulasi, menjadikan industri domestik ini ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy). Seharusnya industri domestik seperti ini diberi kemudahan seperti subsidi BBM dan listrik, mengurus pajak dan ijin gangguan, kredit modal awal, dsb. Sehingga gairah untuk mendirikan industri domestik ini meningkat dan memperbesar peluang terciptanya lapangan kerja mandiri.

Disamping itu negara dapat menjamin  dengan memegang kendali ekonomi sehingga liberalisasi dan globalisasi dalam kegiatan ekonomi tidak merusak tatanan yang ada. Sehingga baik pelaku industri domestik, nasional, maupun internasional tidak hanya dipandang sebagai alat produksi semata, melainkan bagian dari sistem ekonomi. Satu sama lain bisa menjadi penyangga perekonomian yang konstruktif dan melibatkan semua elemen masyarakat.

Ketiga, menghidupkan kembali pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi lokal. Dalam hal ini, penulis melakukan penekanan pada PKL sebagai salah satu bagian dari ekonomi lokal. Biasanya PKL tumbuh pesat di kota-kota besar, mayoritas dari mereka adalah masyarakat urban seperti yang sudah dikatakan oleh penulis pada bagian awal. Seharusnya pemerintah kota berterima kasih pada para PKL, karena mereka inilah sebenarnya pelaku sebenarnya kegiatan ekonomi lokal. Mereka inilah yang membuat arus uang dapat berputar. Sayangnya mereka seringkali tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Kita seringkali berpikir bahwa mereka adalah kelompok orang yang membuat kota semakin kumuh dan sumpek karena kehadirannya. Bila dilakukan relokasi biasanya mereka tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka. tidak jarang relokasi itu dilakukan dengan tanpa manusiawi. Seharusnya kita bercermin dengan apa yang dilakukan Kota Solo. Majalah Tempo menobatkan Kota Solo sebagai kota ramah pedagang kecil. Dimana PKL dan pedagang pasar yang semrawut diperlakukan dengan amat manusiawi. Pemerintah solo bahkan menjamu mereka hinga 54 kali demi mendengarkan aspirasi mereka dalam memutuskan masalah relokasi. Ditempat yang baru, mereka bahkan tidak dikenai biaya bangunan dan lokasi ketika menempati los pasar. Mereka hanya dikenai biaya perawatan pasar sebesar Rp 2.700,00 perhari. Tentu hal ini sangat meringankan mereka dalam keseharian.

Hasil yang diperoleh dari semua itu adalah kegiatan perekonomian lokal yang berkembang pesat dan tertib. Tidak hanya itu, pemasukan daerah Kota Solo pun saat ini di dominasi berasal dari restribusi pasar. Tidak ada demo penolakan relokasi melainkan kesadaran masyarakat untuk turut serta dalam kegiatan ekonomi lokal semakin meningkat. Industri domestik di kota ini pun kian menggeliat karena respon masyarakat dalam kegiatan ekonomi lokal dalam hal ini adalah daya beli masyarakat cukup tinggi. kepercayaan diri, kompetisi yang sehat serta etos kerja yang tinggi dengan sendirinya tercipta dalam situasi yang kondusif seperti ini.

Perekonomian yang berbasis kerakyatan seperti ini diyakini oleh penulis sebagai salah satu media untuk menumbuhkan nasionalisme kedaerahan. Dimana kita mampu untuk mempelajari, memahami dan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah tanpa harus menjadikannya sebuah pembeda, melainkan sebuah harmoni kehidupan yang indah. Satu sama lain menjadi penyokong pembangunan bangsa kita menuju ke arah yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

Suparno, Erman. 2009. National Manpower Strategy. Jakarta: penerbit kompas.

Majalah Tempo edisi September 2009.


[1] Majalah Tempo edisi september 2009,

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s