PESANTREN MASA KINI, DARI LAUNDRY HINGGA BATUR (part II)


Laundry Sebagai Bisnis Alternatif Pesantren(?)

Udara panas siang hari tidak mengurangi semangat kerjanya. Di sudut ruangan berukuran 4X5 meter ini telah menumpuk sejumlah pakaian kotor dari para pelanggan. Sambil menunggu putaran dari mesin cuci yang berada di sisi lain ruangan ini berhenti, wanita berusia 25 tahun ini tidak lantas berdiam diri saja. Ia menyambi waktu luang yang ada dengan menyetrika setumpuk pakaian bersih yang sudah kering. Beberapa diantaranya adalah pesanan kilat yang akan diambil beberapa jam lagi oleh pelanggannya. Hn, nama wanita ini, mengaku sudah 6 bulan menekuni pekerjaannya sebagai pengelola jasa laundry di daerah Krapyak, dari ceritanya, usaha ini sudah berganti-ganti pemilik hingga 2 kali sebelum dirinya memutuskan untuk mengambil alih usaha ini.

“saya mah, tertarik usaha laundry soalnya modalnya gampang. Sudah itu, gak berat dipikiran, respon masyarakat juga bagus. Apalagi disini kan daerah pondok, jadi lumayan menjanjikan juga.” Begitulah penuturan Hn ditengah kesibukannya.

Merebaknya usaha laundry saat ini, bukan hanya dilatar belakangi oleh santri yang dinilai semakin dinamis saja, melainkan dari kaca mata ekonomi, laundry sebagai industri informal yang mulai dilirik banyak pihak. Dari wawancara yang dilakukan penulis terhadap 5 outlet laundry didaerah Krapyak, rata-rata keuntungan bersih yang diambil dari bisnis usaha laundry ini adalah minimal 20%. Bila dikalkulasikan, setiap hari mereka menerima order laundry rata-rata adalah 30 Kg X Rp 3.000 (harga standar yang beredar kebanyakan) = Rp 90.000 X 30 hari = Rp 2.700.000 X 20% = Rp 540.000, maka keuntungan bersih perbulan minimal berkisar Rp 540.000, membuat banyak orang yang melirik celah bisnis ini.

Di awal sudah dijelaskan bahwa dari empat belas outlet laundry yang beropeasi di Krapayak, dua outlet dikelola secara intern oleh pesangasuh pesantren. Bahkan ada satu outlet yang dikelola mandiri oleh santri tanpa ada campur tangan dari pihak pesantren. Ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama saja, melainkan pusat pergerakan ekonomi bagi baik pesantren itu sendiri maupun masyarakat sekitar. Banyak masyarakat yang memanfaatkan kehadiran santri-santri yang jauh dari rumah sebagai ladang usahanya. Mulai dari penyediaan keperluan sehari-hari santri, makan, hingga kebutuhan gaya hidup santri seperti counter pulsa, rental, outlet baju, dan laundry.

Mulanya banyak pesantren yang tidak melihat ini sebagai celah bisnis. Namun seiring dengan perkembangan zaman ketika pesantren modern mulai menerima campur tangan dari pemerintah melalui program pemberdayaan santri dan pengembangan pesantren, bidang perekonomian pesantren mulai menjadi fokus utama karena berkaitan erat dengan pembangunan infrastruktur pesantren. Mengingat tidak selamanya pesantren mengandalkan bantuan pemerintah atau sumbangan dari santri yang tidak bisa dipastikan, banyak pengasuh pesantren yang mulai membuka berbagai macam usaha sebagai media pengumpul pundi-pundi pembangunan, seperti : kopontren, kantin santri, toko kitab, hingga laundry. Bisa dipastikan perputaran uang yang  terjadi berputar antara santri, pesantren, pondok, dan santri.

Ada empat macam kemungkinan pola usaha pemberdayaan ekonomi yang terjadi di lingkungan pesantren ini, perekonomian yang berpusat pada kiai, perekonomian untuk memperkuat biaya operasional pesantren, perekonomian sebagai pemberdayaan santri, perekonomian mandiri yang dibentuk oleh alumni santri[1]. Dari kasus yang terjadi di Krapyak, pola perekonomian yang terjadi lebih berpusat pada upaya memperkuat biaya operasional pesantren dan pemberdayaan santri.

Alasan mengapa pola perekonomian ini berpusat pada upaya memperkuat biaya operasional pesantren adalah tidak semua santri membayar biaya hidup di pesantren tepat pada waktunya. Menurut penuturan pembimbing dikomplek 3 pesantren A yang mengatakan bahwa tak jarang pemasukan dari santri tidak sesuai dengan pengeluaran untuk biaya operasional pesantren. Banyak santri baik sengaja maupun tidak sengaja menunggak living cost pesantren hingga berbulan-bulan. Hal inilah yang membuat dari pihak pengasuh berupaya untuk menutupi kekurangan biaya operasional ini dengan cara membuka berbagai usaha yang dinilai strategis dan laku keras. Begitu pula dengan alasan pemberdayaan santri, pengasuh menilai bahwa tidak semuanya santri yang tinggal dipesantren akan menjadi ulama keseluruhannya. Oleh karena itu untuk meningkatkan nilai santri dimata masyarakat, santri dibekali berbagai keterampilan dengan harapan santri tersebut mampu survive setelah lulus.

Sayangnya, dibalik keberhasilan pesantren dalam upaya modernisasi, ada satu wilayah yang selama ini tidak pernah tersentuh ke permukaan dan nyaris dilupakan. Motor penggerak dalam modernisasi yang selama ini luput dari pembicaraan karena posisinya yang dilematis dan dianggap tidak penting oleh kebanyakan orang. Bila pesantren menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar, batur adalah penggerak  ekonomi intern pesantren. Para batur, yang selama ini secara tidak langsung berjasa dalam menggerakan ekonomi pesantren dilapangan.

Batur (beberapa menyebutnya, khadim, tiyang ndalem) adalah orang kepercayaan pengasuh pesantren yang dipekerjakan secara khusus. Fenomena batur banyak terjadi dipesantren jawa dan entah sejak kapan keberadaanya mulai ada dalam dunia pesantren.Kedudukannya abstrak, karena disatu sisi ia berstatus sebagai orang yang dipekerjakan entah itu pekerjaan rumah seperti masak, membersihkan rumah pengasuh, melayani tamu, dll; namun ia bukan buruh yang mendapatkan upah dari hasil keringatnya apalagi tunjangan lembur mengingat batur ini tidak memiliki jam kerja yang pasti dan bisa diprediksikan. Di sisi lain ia berstatus santri yang juga mengikuti kegiatan pesantren. Hanya saja, ia memiliki kedudukan yang cukup diistimewakan, karena tak jarang ia tidak diberlakukan peraturan-peraturan pesantren yang ada. Seperti membayar biaya hidup, mengikuti kegiatan santri sepenuhnya, hingga penempatan kamar yang tidak dibaurkan dengan santri yang lain. seringkali batur ini disekolahkan formal secara Cuma-cum oleh pengasuh.

Tidak semua orang bisa menjadi batur, karena sifatnya yang menjadi tangan kanan pengasuh/kyai, santri-santri yang terpilih menjadi batur biasanya cukup disegani oleh santri-santri lainnya. Kebanyakan santri yang menjadi batur ini datang dari keluarga miskin, golongan menengah kebawah, atau proletar. Walau tidak menutup kemungkinan ada juga batur yang justru datang dari keluarga berada bahkan keturunan kyai dengan alasan ngalap barokah dari kyai yang dianggap kharismatik. Dalam kesehariannya, batur ini disamping menjadi ‘buruh’ tanpa bayaran, batur ini juga berperan sebagai penggerak perekonomian pesantren dilapangan. tidak jarang para batur inilah yang dipercayakan kyai untuk mengelola keuangan santri hingga mengurus bisnis kyai. Hal ini bukanlah tanpa alasan, mengingat tidak semua santri mampu mengelola bisnis pesantren yang ada.

Kasus yang terjadi di krapyak, pesantren A di komplek 1 terdapat sebelas orang batur yang terdiri atas enam wanita dan lima pria. Enam wanita dan satu pria ini berstatus batur tetap dan khusus dipekerjakan di komplek 1, sedangkan sisanya adalah batur yang dipekerjakan secara umum dipesantren A. Batur di komplek 1 ini memiliki usia dan pendidikan yang bervariatif hingga saat ini, mulai dari yang sekolah formal hingga murni santri di pesantren, mulai dari Tsanawiyah hingga strata satu. Semua biaya hidup hingga sekolah formal statusnya ditanggung sepenuhnya oleh pengasuh/kyai.

Masing-masing memiliki wilayah kerja masing-masing sesuai dengan kapasitas batur. Tidak hanya masalah rumah tangga kyai yang menjadi tanggung jawab mereka, melainkan mereka inilah yang sekaligus menjadi pegawai dibisnis pesantren. Sebut saja S, sehari-hari ialah yang mengurusi masalah pakaian kotor keluarga kyai selain membantu memasakkan makanan untuk santri di komplek 1. Disamping itu, ia pulalah yang dipercayakan kyai untuk mengelola laundry pesantren di komplek 1. Dalam sebulan, ia mendapatkan penghasilan bersih + Rp 400.000,00 dari laundry, uang ini kemudian ia setorkan sepenuhnya kepada kyai. Diwaktu senggang adakalanya ia menjual gorengan kepada santri dikomplek 1 dan 3. Sama halnya dengan laundry, hasil dari penjualan gorengan ini ia setorkan sepenuhnya kepada kyai, ia tidak mendapatkan sepeserpun uang dari bisnis laundry ini. sebagai gantinya ia mendapatkan uang jajan sebesar Rp 120.000 perbulan. Di luar itu ia hanya mendapatkan jatah baju dari kyai sebesar Rp 75.000,00 diakhir tahun. Kita tentu akan berpendapat bahwa hal ini tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh S. Apalagi, diluar pesantren ia tercatat sebagai salah satu mahasiswa UIN sunan kalijaga semester tiga. Kita akan bertanya, bagaimana ia bisa mencukupi kebutuhan operasional kuliahnya. Itulah alasannya ia membuka usaha counter elektronik yang dijual kepada santri komplek 1.

Begitu pula dengan N, sama halnya dengan S ia pun berstatus batur dikomplek 1. Sehari-hari ia bertanggung jawab mengelola keuangan santri. Ia mencatat pemasukan dan membelanjakan biaya opeasional pesantren seperti, belanja makan santri sehari-hari, membayar listrik, dll. Ia pun dipercaya untuk memasak makanan untuk santri komplek 1, dua kali sehari dibantu S dan ke empat temannya yang lain, belum lagi ia juga mengasuh cucu dari kyai yang masih belita. Di akhir bulan ia mendapatkan uang jajan (karena dianggap tidak layak bila dikatakan sebagai gaji) sebesar Rp 200.000.

Batur sebagai tulang punggung penggerak ekonomi dan operasional pesantren, selama ini kurang mendapatkan perhatian yang selayaknya dari pengasuh/kyai. Walaupun statusnya ia dibebaskan dari biaya hidup tinggal di pesantren, namun hal ini tidak sebanding dengan pekerjaan yang ia lakukan kesehariannya. Selain jam kerja yang tidak jelas, ia pun tidak memiliki hari libur bahkan cuti untuk sekedar pulang diakhir bulan. Belum lagi pekerjaan yang menumpuk dan tanggungan mengelola bisnis pesantren tak jarang membuat batur ini tidak sempat mengenyam pendidikan selama tinggal dipesantren walau sebetulnya ia berstatus santri.

Mungkin nasib S dan N, masih sedikit beruntung. Karena banyak kasus yang terjadi dibeberapa pesantren, batur-batur ini tidak mendapatkan apapun selain makan dan tinggal dipesantren yang bersangkutan. Belum lagi terkadang ada perlakuan yang kurang menyenangkan pada batur datang dari pihak santri yang tak jarang mendiskriminasi kehadiran batur. Mengapa hal ini ini bisa terjadi? Tak lain karena ada stigma pakeweuh antara batur dengan pengasuh/kyai. Batur tidak mempunyai hak untuk menuntut karena dianggap sukarela, sedangkan pengasuh/kyai berhak mempekerjakannya karena sudah diijinkan untuk tinggal dan makan secara cuma-cuma. Disamping itu, batur dianggap tidak sopan terlalu sering pulang atau mengambil cuti. Padahal batur ini bisa dikatakan setingkat dengan pembantu rumah tangga yang harus diapresiasikan minimal dengan upah yang layak.

Bisa dikatakan bahwa batur adalah salah satu bagian dari modernisasi pesantren yang belum mendapat perhatian yang layak.


[1] Pendidikan Islam dalam konteks pasar dan pemberdayaan ekonomi masyarakat; isnaini, muhammad; jurnal pembangunan manusia; 2009.

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s