MENGGADANG MIMPI DIATAS LUMPUR LAPINDO


Memang benar apa yang dikatakan teman saya, bosman batubara, bahwa bicara Porong itu artinya secara tidak langsung kita memposisikan diri dalam situasi dilema. Apa yang kita bicarakan belum tentu mendapatkan solusi bahkan bisa jadi hanya menambah masalah semata.

Orang-orang yang saya temui dilapangan bercerita dengan gamblang bagaimana kronologi awalnya lumpur menyembur 4 tahun silam. Bahkan tanpa ekspresi sedih sedikitpun diwajah mereka. mungkin mereka sudah lelah mengeluarkan energi untuk ‘nggerundel’ yang berujung janji-janji belaka. Atau bisa jadi mereka sudah apatis dan menganggap bahwa hanya keajaiban, mukjizat, bahkan mimpi, tentang pelunasan ganti rugi untuk bisa memulai kembali hidup normal seperti sediakala menjadi kenyataan.

Lantas untuk apa pula saya menulis kejadian ini di blog? Bisa jadi apa yang saya tulis hanya akan menjadi artikel sampah yang sedikitpun tidak membawa kontribusi kepada mereka. toh sudah banyak artikel, malakah, buku, film tentang Lapindo yang beredar dimasyarakat toh tidak membawa perubahan bagi mereka yang sudah bersedia menjadi objek pesakitan. Padahal saya sendiri punya hak bicara penuh. . .

Baiklah,,,

Saya tidak akan bicara tentang masalah ganti rugi 20 & 80% karena saya sendiri tidak mengetahuinya secara detail. Saya tidak akan bicara tentang teori bubble gas mencari kambing hitam siapa yang bertanggung jawab atas semua ini. tidak pula bercerita tentang ramalan ronggowarsito tentang prediksi the next atlantis. Saya tidak akan bicara yang muluk-muluk!titik!!!

Jadi saya hanya mengisahkan perjuangan sekelompok orang radikal yang selama ini jarang terekspos dan dipedulikan keberadaanya ditengah hiruk pikuk demonstrasi masyarakat Porong yang minta ganti rugi segara dilunasi. Sekelompok orang yang masih berani mempertahankan keyakinan mereka diatas kepulan asal lumpur yang kian hari semakin tak terbedungi. Sekelompok orang yang masih berharap bahwa mereka hanya cukup dihormati keyakinan mereka tanpa harus merasakan nikmatnya ganti rugi yang diiming-imingi pemerintah dan kroni-kroninya.

Selama ini kita lebih sering mendengar protes dan tuntutan dari warga Porong yang menginginkan pemerintah dan PT.LPI bertanggung jawab atas peristiwa semburan lumpur panas akibat human error tersebut. Presiden pun sebagai bukti ‘kepeduliannya’ mengeluarkan perpres no. 14/2007 dimana PT. LPI diharuskan mengganti rugi tanah warga dalam bentuk cash and carry 20% dan 80%. Walaupun kenyatannya belum semua warga mendapatkan ganti rugi untuk segera pindah ketempat yang lebih layak ketimbang tinggal dipengungsian. Belum lagi masalah dampak semburan yang kerugiannya tidak hanya berkisar di angka rupiah semata melainkan diangka statistik yang menunjukan tingkat depresi dan kerugian immaterial lainnya yang mesti ditanggung oleh korban lumpur Lapindo. Belum lagi masalah penyebab yang sampai masih simpang siur karena erat kaitannya dengan siapa yang akan menjadi kambing hitam dibalik human disaster ini. Semua berita tentang Lapindo ini kita ketahui manalagi kalau bukan dari media massa.

Tapi ada sekelompok orang dari desa Jatirejo yang keukeuh untuk mempertahankan sebidang tanah desa mereka walaupun lumpur sudah menutupinya hingga 6 meter. Mereka mempertahankan sebidang tanah wakaf yang dari cerita orang-orang yang saya temui dilapangan difungsikan sebagai tanah perkuburan. Mereka tidak peduli tanah dan rumah mereka diganti dengan 20% atau 100%, mereka tidak ingin desa mereka diganti dengan tanah seluas desa mereka sehingga mereka bisa pindah tanpa harus tercerai berai ke pelosok daerah lainnya. mereka tidak mengacuhkan apakah desa mereka sudah masuk atau belum ke dalam peta wilayah terdampak. Tapi mereka sangat peduli dengan kondisi pekuburan tersebut walaupun semuanya sudah terkubur rata dengan lumpur selama empat tahun.

Diantara tanah perkuburan yang masih dipertahankan keberadaannya, terdapat makam seorang tokoh agama yang sangat dihormati oleh kelompok radikal tersebut, yaitu KH. Annas Al-Ayyubi. Seorang tokoh spiritual yang sangat disegani sekaligus menjadi alasan utama bagi kelompok radikal untuk terus mempertahankan tanah wakaf tersebut. KH Anas Al-AyyubiKH Anas Al-Ayyubi adalah salah satu tokoh masyarakat dan pendiri pondok pesantren Abil Hasan Asy Syadzily di desa Jatirejo, Porong. Beliau wafat pada januari 2003 dan di makamkan di halaman pondok pesantren.Mereka tidak peduli bagaimana kondisi tanah pekuburan tersebut. Bahkan walaupun sudah tertutupi dan tidak terdapat penanda apapun yang menandakan batas wilayah pekuburan tersebut terutama makam Kiai Annas, tapi dari pengamatan saya dilokasi mereka cukup yakin bahwa sebidang tanah yang sekarang ini diberi punden dan nisan dari beton tersebut adalah tempat bersemayamnya Kiai Annas yang sudah wafat beberapa tahun yang lalu sebelum sebelum lumpur Porong menenggelamkan tiga desa di Porong.

Bayangkan mereka bahkan melakukan pemblokiran terhadap makam tersebut dengan membuat nisan dan punden yang baru dari beton. Padahal, ketika saya berusaha melintasi lumpur menuju makam tersebut, bisa saya rasakan bahwa tanah disekitar makam labil dan panas pada bagian-bagian tertentu. Diatas makam yang baru inilah kelompok radikal yang dalam hal ini adalah santri, alumni, dan keluarga besar dari Kiai Annas masih tetap menziarahi makamnya secara rutin setiap malam jumat legi.

Bukanlah urusan yang mudah memindahkan sebuah pondok pesantren. Karena pesantren tampaknya terikat dengan tanah tempat ia dilahirkan. Jalinan itu begitu kuat, hingga para santri tidak bisa begitu saja meninggalkan tanah asal pondok mereka. jadi walaupun pesantren mereka sudah lenyap tak berbekas dan pindah di daerah yang lain, tapi jalinan emosional itu masih terjalin kuat. Namun juga perkara mudah mempertahankan tanah kelahiran mereka itu. Mereka sempat pula harus bersiteru dengan warga desa Renokenongo karena desa Jatirejo menjebol tanggul sehingga lumpur panas tersebut mengalir ke Desa Renokengongo. Menyelesaikan masalah dengan membuat masalah yang baru,,belum lagi mereka harus menebalkan kuping dan meneguhkan hati merka menghadapi ocehan dan olokan dari sesama krban lumpur Lapindo yang mengatakan mereka terlalu bodoh dan naif mempertahankan sebidang tanah mereka yang dianggap tidak bisa dipertahankan lagi. Hingga kini tercatat + 49 sertifikat Warga Jatirejo termasuk makam tersebut masih bertahan ditangan masing-masing. Mereka seolah tidak tergiur sedikitpun dengan iming-iming ganti rugi yang diberian oleh pihak Lapindo brantas. Sehingga mereka seringkali disebut sebagai kelompok radikal, extreme,,,gila,,,dan sebagainya.

Bukan tanpa alasan mereka tetep kekukeuh mempertahankan aset bangunan,tanah dan makam kiai anas di desa Jatirejo itu. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan dari teman-teman relawan LAFADL, mereka bersikeras mempertahankan aset dan tanah mereka karena alasan-alasan yang mungkin menurut orang lain tidak masuk akal sepenuhnya. Gus Maksum, penerus pondok pesantren Kiai Annas, mengatakan bahwa Gus Dur mengatakan jangan pernah menjuak tanah tersebut. Karena menurut Gus Dur, kalau warga Jatirejo mau bersabar,insya allah mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kemungkinan balasan yang dimaksud oleh Gus Dur adalah nun jauh dibawah rumah mereka yang terendam,,terdapat minyak dan gas yang melimpah. Pegangan itulah yang membuat mereka berpegang teguh pada keyakinan mereka.

Apalagi konon menurut warga Jatirejo sendiri,,,sebelum Kiai Annas wafat, beliau sempat berwasiat bahwa desa mereka akan dilanda cobaan yang erat, desa mereka akan cobaan berupa panas tapi bukan api,,,bajir tapi bukan air,,dan itu terbukti tiga tahun kemudian setelah kiai anas wafat,,semburan lumpur Lapindo muncul meluluhlantakkan kehidupan seakar-akarnya. Oleh karena itumerekapun kembali yakin untuk tetap bertahan melawan cobaan tersebut.

Sekarang empat tahun sudah berlalu sejak semburan pertama muncul ditanah Porong. Bukan hal yang mudah untuk tetap meyakini hal yang sulit dinalar sedikitpun. Modal kepercayaan yang justru menyerap banyak energi dan jiwa raga. Mereka tidak hanya menghadapi desakan pihak Lapindo brantas untuk segera menjual aset tanah mereka, tapi mereka juga bertarung dengan nyiyiran tajam yang keluar dari teman-teman yang senasib. Kita sebagai saudara sebangsa,,,seharusnya bisa memahami. Bahwa keinginan mereka bukan karena impian material yang digadang-gadangkan oleh Gus Dur. Melainkan ada nilasi historis dan sosial yang tidak bisa begitu saja tergantikan dengan segepok uang. Makam mereka, tokoh mereka, tanah mereka, bahkan adat mereka, itu semua menunjukan keberadaan dan jati diri mereka sendiri. bila mereka menuruti untuk pindah ke tempat lain, dengn sendirinya sejarah desa Jatirejo yang ada sejak nenek moyang mereka akan hilang dengan sendirinya. Apalagi memory hanya sebatas usia mereka. bagaimana mereka mengenalkan jati diri mereka sebagai warga Jatirejo kepada generasi penerus mereka? tidak ada satu pun bukti yang tertinggal kecuali hamparan lumpur setinggi enam meter yang entah sampai kapan akan berhenti mengeluarkan lumpur panas.

Kita lihat saja pertarungan keyakinan mereka melawan kapitalisme negara,,apakah 10 tahun waktu yang cukup untuk membuktikan keyakinan mereka, ataukah 10 tahun mendatang kita akan melihat kebuntuan dan kekalahan yang mereka terima??semoga waktuku cukup untuk melihat kenyataan tersebut.

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

3 Balasan ke MENGGADANG MIMPI DIATAS LUMPUR LAPINDO

  1. bosman berkata:

    wah, kamu udah sampai di sana Juga tho, kalau ketemu Gus Maksum salam dari Bosman ya. terus, ada lho anaknya di Fesbuk…, kalau mau kenalan sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s