KEMILAU HARTA DI PERBATASAN


Seluruh belahan dunia tahu bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Siapa yang tidak tertarik untuk tidak menanamkan saham mereka di Indonesia dengan segala kemudahan yang ditawarkan. Pemerintah pun semakin giat meningkatkan aktifitas perekonomian di berbagai bidang yang memberikan pemsukan devisa bagi negara. Gas, minyak, barang tambang, rempah-rempah, beras, kelapa sawit, ikan, dll adalah hanya sebagian kecil dari kekayaan yang kita ketahui berperan besar dalam pemasukan devisa yang nantinya digunakan untuk membiayai sebagian pembangunan negara. Belum lagi budaya dan keindahan alam yang menarik pesona negara luar untuk mengunjungi Indonesia. Semuanya menjadi pilar-pilar yang menyokong dan mendukung pembangunan kita saat ini.

Pembangunan itu meliputi pembangunan fasilitas negara untuk rakyat, pengembangan SDM, kesejahteraan masyarakat seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi dilapangan. Kenyataannya masih jauh dari yang kita harapkan. Pembangunan yang semestinya menyebar diseluruh daerah masih terbatas dipusat kota saja. Pendidikan dan kesejahteraan yang dimaksud saat ini hanya bisa dinikmati oleh sebagian kalangan terbatas yang memiliki kemudahan untuk mengaksesnya.

Penulis yang pernah mengalami tinggal didaerah pinggiran lebih tepatnya di daerah perbatasan yang hanya dipisahkan dengan sungai selebar 10 meter merasakan bagaimana sulitnya untuk mengakses fasilitas negara mulai dari masalah kesehatan hingga pendidikan. Dari masalah pangan hingga ekonomi yang menjadi tulang punggung masyarakat didaerah penulis. Mereka banyak yang terpaksa pindah atau menjadi pengembara didaerah sebrang hanya dengan melewati jembatan sungai untuk mendapatkan kemudahan mengakses fasilitas yang mereka butuhkan. Dari situ akan terbayang bagaimana menderitanya masyarakat yang tinggal diperbatasan daerah yang tersebar di seluruh pelosok negri terutama yang langsung berbatasan dengan negara lain. Perlu iman yang kuat agar tidak menjadi bangsa yang murtad untuk bertahan dalam situasi yang menyedihkan.

Saat ini pembangunan hanya berpusat disatu titik saja, tidak jarang daerah pemasok penghasilan hanya dijadikan sapi perah saja yang tidak diimbangi dengan ucapan terima kasih atas bantuan menjadikan pusat kota begitu gemerlap dengan semua fasilitas, kejayaan yang kita lihat saat ini. Tidak heran bila daerah perbatasan yang saat ini dipandang sebagai jalan belakang tempat pembuang ‘sampah dan limbah’ kejayaan terdapat banyak penyelewengan dan pelegalan tanpa status hukum yang jelas. Selama ini mereka hanya mendapat ampas dari sisa-sisa kejayaan yang mengalir ke daerah mereka.

Ketika Indonesia merdeka, garis-garis perbatasan daerah harus memaksa mereka memilih status kewarganegaraan. Pemerintah seharusnya sadar bahwa sejarah dan peradaban tidak bisa dipisahkan dengan hukum yang melegalkan status mereka dengan begitu saja. oleh karena itu banyak persitiwa unik yang tidak pernah tersentuh pemerintah terjadi di daerah perbatasan. Contohnya penduduk yang tinggal di Gun Jemak atau Gun Sapit yang lebih mengenal mata uang ringgit ketimbang rupiah padahal status mereka adalah warga negara Indonesia. Sudah bukan hal yang aneh lagi bila mereka memiliki dua kartu identitas dari negara yang berbeda. Bukan rahasia lagi bila mereka lebih memilih menjual hasil bumi dan kekayaan alam Indonesia ke negara tetangga karena dinilai lebih menguntungkan ketimbang menjualnya di negara sendiri. Tingkat kemakmuran yang berbeda jauh pun semakin melengkapi penderitaan mereka. Padahal banyak potensi masih terkubur atau bahkan hampir benar-benar terkubur yang belum diketahui.

Sebelum semuanya terlambat, seharusnya ada perlakuan khusus terhadap penduduk yang tinggal diperbatasan. Pembangunan infrastuktur yang sering diabaikan oleh pemerintah merupakan kunci utama yang harus diperhatikan. Banyak sekali infrastruktur di daerah perbatasan rusak dan tidak layak pakai yang masih menunggu untuk ditangani. Butuh waktu bertahun-tahun untuk merealisasikannya. Jangankan rusak, banyak sekali infrastruktur yang belum direalisasikan meskipun penduduk sekitar sudah mengajukan permohonan berkali-kali sebelumnya.

Disamping membangun infrastruktur yang dapat menghubungkan dengan dunia luar, perlu juga dilakukan pembangunan yang mendukung. Seperti pembangunan sektor ekonomi yang berbasis masyarakat, peningkatan kualitas SDM, kemudahan mengakses fasilitas dan birokrasi kepemerintahan, fasilitas kesehatan, serta pengembangan dan pelestarian kebudayaan di daerah tersebut. Hal ini bertujuan agar pembangunan di daerah perbatasan bisa harmonis karena didukung dengan faktor-faktor seperti itu.

Pemerintah juga perlu memberikan kesempatan pada penduduk daerah perbatasan yang memiliki potensial kekayaan alam untuk bisa mengolahnya secara mandiri. Pemerintah tidak melulu mengolahnya secara terpusat namun tetap terkontrol agar kesejahteraan penduduk meningkat dan isu desentralisasi tidak menjadi horor perpecahan yang menakutkan. Cukup sudah kita mengalami sejarah kelam kehilangan daerah-daerah dan pulau kebanggan kita. Mulai sekarang jangan jadikan daerah perbatasan hanya sebagai aset sekali pakai yang hanya diperas hingga kering kekayaannya demi mensejahterakan golongan tertentu. Jangan sampai mereka benar-benar berpikir bahwa hujan emas di tengga memang lebih menyenangkan dari pada hujan batu di negara sendiri.

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke KEMILAU HARTA DI PERBATASAN

  1. Akang Huud berkata:

    Sekarang yang dibutuhkan adalah kesadaran hati dari seluruh manusia yang merasa sebagai warga negara Indonesia atau di dalam dirinya mengalir darah Indonesia untuk mengritisi kompleksitas permasalahan dan fenomena-fenomena yang menyangkut kepentingan bangsa ini. Berbagai macam krisis menerpa bangsa, mulai dari krisis ekonomi hingga krisis kepemimpinan. Semuanya hendaknya disikapi dengan bijaksana. Tentunya terdapat kaidah sebab-akibat yang meliputi segala sesuatunya yang mana hal tersebut harus kita ketahui bersama secara komprehensif.
    Segala hal yang mengenai permasalahan bangsa kita harus kita tinjau dengan berbagai macam sudut pandang agar dapat meliputi berbagai macam sudut pandang yang mendekati mayoritas kebenaran. Kebenaran hakiki hanya milik yang di atas. sedangkan manusia hanya bisa berusaha sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki

    Eh, aku punya ide: Bagaimana kalau kita berdikari(berdiri diatas kaki sendiri) aja dari segi ekonomi alias enterpreneurship untuk menyokong dana yang digunakan untuk pembangunan. Emang tidak dapat dipungkiri kalau ” Jer Basuki Mowo Beyo”/ semuanya membutuhkan biaya he2. Pemerintah jangan dijadikan sebagai sandaran utama pembangunan. Yang dijadikan sandaran utama ya kita-kita ini yang masih muda. Biar pemerintah ngurusi kewajibannya(to pejabat yang baek2 aja). Dan kita jangan mau kalah ma pemerintah. Kita juga bisa kok membangun masyarakat kita dari segi ekonomi dengan cara bergabung bersatu membentuk kesatuan komunitas untuk dapat mengembangkan potensi apa saja yang dapat menghasilkan nilai ekonomis di daerah kita masing2. Udah gak jamannya lagi kirim proposal dana untuk development(pembangunan). Istilahnya harus diganti dengan empowering ( pemberdayaan ) masyarakat agar masyarakat dapat mandiri sendiri kuat dari berbagai aspek kehidupan. Lebih baek dari kita ini generasi muda yang siap untuk kaya dan sholeh-sholehah.
    Bayangkan kalau setiap kita memikirkan hal tersebut, pasti indah deh.
    Oh ya, ada lagi. Kita berwirausaha mandiri, dapat uang banyak, membangun madrasah, sekolah, perpustakaan, panti asuhan, laboratorium penelitian( International Research Laboratory of Science and Technology, laboratorium apa kek, pokoknya asyik deh), dll. Dananya dari kita sendiri, pokoknya gratis deh semuanya. Kita kan kaya. Enterpreneur!!!
    Trus membiayai anak didik dari orang yang gak mampu, gembel, anak jalanan untuk jadi orang yang berguna bagi nusa , bangsa dan agama. Kan tercipta ilmuwan-ilmuwan dan Ulama-ulama dan apa kek yang mempunyai jiwa leadership. Trus, kalo mereka dah sukses dan kaya, mereka harus membalas budi dengan cara mendirikan madrasah, panti asuhan, sekolah, perpustakan, dll serta memberiayai anak didik mereka. bayang kan kalau misalnya kita satu orang membiayai 5o anak didik, trus mereka kalau udah sukses membiayai anak didik 50 mereka. Tinggal mengalikan aja. Itu kalau satu angkatan. kalau lebih, tinggal mengalikan aja, gitu aja kok repot. semuanya tersebar ke seluruh penjuru tanah air, mungkin bisa makmur deh indonesia, amin.
    Jadilah orang kaya untuk dapat berbuat baik lebih banyak kepada orang lain. Dirikan perusahaan banyak yang dapat digunakan untuk mengelola aset-aset bangsa berupa sumber daya alam luar biasa hebatnya. Apa mau, bangsa kita jadi buruh di negeri sendiri sedangkan tuannya orang asing? Jamannya impor TKA (Tenaga Kerja Asing)

    • ngakusantri berkata:

      Terima kasih commentnya
      Usulan dari kang kembali membuat saya berpikir ulang tentang tulisan saya. Secara umum saya sependapat dengan kang huud. Apalagi dengan konsep berdikarinya.
      Saya setuju dengan konsep berdikari,kalo kita mampu berdiri sendiri mengapa kita harus bergantung dengan pemerintah yang urusannya seabreg tidak ada habis-habisnya. Mengapa kita harus bergantung pada pihak lain bahkan untuk urusan makan ketimbang kita menggunakan hadiah terindah yang diberika tuhan kepada kita, yaitu akal? Mengapa kita harus berebut kursi dan jabatan PNS yang tidak seberapa daripada kita berwirausaha menjadi pengusaha,,toh modal yang dikeluarkan sama besarnya kalau dihitung-hitung. Tapi akhirnya akan menjadi berbeda, kita menjadi bos untuk diri kita sendiri sekaligus menjadi pegawai sedangkan PNS hanya menjadi bawahan yang membawahi.
      Mengapa kita mau jadi bawahan yang konsumtif ketimbang menjadi pengusaha yang produktif? Di tubuh birokrat tidak ada kegiatan produksi yang meningkatkan perekonomian negara kita. Hanya ada produksi regulatif yang sifatnya mengatur dan teoritis belaka. Kalau kerjanya Cuma ngatur dan berteori belaka kapan kita bergerak?
      Pertama, Ini berkaitan erat dengan sistem pendidikan kita yang minim aplikatif. Mata pelajaran yang kita dapatkan di bangku sekolah sifatnya hanya parsial dan cenderung membuat kita teoritis. Tapi tidak terintregitas dengan kehidupan sehari-hari dan aplikatif. Saya sempat tercenung dalam seminar nasional tentang pendidikan dimana Prof Suwarsih Madya PhD mengatakan sistem pendidikan negara kita yang bisa dikatakan hampir tidak efektif. Sudah jenajangnya lama tidak langsung menghasilkan manusia yang mandiri dan independent pula. Contohnya selama ini pelajaran matematika, seni apalagi logika bisnis diajarkan secara berdiri sendiri. kenapa tidak kita ajarkan secara bersamaan? Kita ajarkan membuat taplak dari kain deng ukuran sekian kali sekian, harganya sekian, lamanya sekian, bila dijual nanti sekian harganya. Secara otomatis logika pelajaran terbentuk pada anak akan tersambung dan terintegrasi.
      Yang kedua, masyarakat kita cenderung memilih pendidikan berdasarkan pasar oriented. bukan berdasarkan kebutuhan lapangan. Kita cenderung memilih jurusan yang sedang menjadi trend di masyarakat ketimbang kebutuhan dimasa depan. Sungguh ironi, sudah banyak alumni ekonomi dan hukum dinegara kita tapi ekonomi kita masih terpuruk dan hukum kita masih amburadul. Kita mendeklarasikan negara kita agraris tapi berapa sarjana pertanian yang mau balik ke sawah dan ladang? Jangankan balik ke sawah, jumlah tanah kita semakin terdesak dengan ladang beton yang bersaing ketat dengan jumlah manusia yang semakin melaju dengan pesat.
      Yang ketiga, konsep amal MLM (hehehe,,saya bingung mau menyebutnya bagaimana) yang disebutkan serupa dengan konsep yang digadangkan dalam film pay it forwar. Tapi saya lebih menyukai tanpa target jumlah karena kemampuan kita berdeda satu sama lain. yang terpenting menurutku adalah keikhlsan dan kualitasnya,,,kalau kita bisa berbuat lebih dari 50 knp tidak?kalau kita hanya mampu melakukan 3 perbuatan baik tidak mengapa kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s