MAKAM SANG …..


Makam sang … pada awalnya hanyalah sebuah makam biasa yang terletak diantara rumpun bambu di Gang Medoro, gang paling ujung di Desan Kramatan. Kehadirannya tak pernah digubris hingga pada suatu hari Pak Warja menemukannya kala mencari rumput untuk kambing-kambingnya. Yang menarik perhatiannya adalah makam ini hanya terdiri sepasang patok tanpa keterangan siapakah yang bersemayam di dalamnya, atau sekedar memberitahu siapa ahli warisnya.

Pak Warja segera pulang ke rumah dengan tergopoh-gopoh dan sesampainya ia pun ngatakan tentang penemuannya pada masyarakat sekitar. Tak lupa Pak Warja pun memberi sedikit sentuhan sensasi magis yang ia rasakan secara berlebihan. Mulai dari posisi makam yang membelah persis rumpun bambu menjadi dua, hingga letak makam tersebut yang jauh dari tempat pemakaman desa. Segeralah masyarakat Desa Kramatan seperti tersihir akan cerita Pak Warja. Sebagian penduduk memutuskan pergi mengikuti Pak Warja untuk membuktikan kebenaran omongan Pak Warja. Sebagian lagi sibuk berspekulasi siapakah yang bersemayam di balik makam tersebut. Sibuk mengaitkan makam itu dengan sejarah desa, mencari benang merah yang tersembunyi.

Beberapa hari kemudian makam itu seolah-olah mempunyai daya tarik tersembunyi. Secara tiba-tiba saja berita penemuan makam misterius tersebut telah menyedot perhatian banyak orang.  Tidak hanya Desan Kramatan yang heboh, namun desa sekitar kramatan pun turut mempertanyakan perihal makam tersebut, spekulasi masyarakat mulai merambah ke wilayah mitos dan mistik. Hingga sejak kapan, sekelompok orang mentasbihkan bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas makam tersebut. Masyarakat pun hanya bisa mengiyakan tanpa harus bertanya mengapa harus mereka yang bertanggung jawab.

Dalam sekejap saja makam tersebut diziarahi oleh bermacam-macam rupa manusia. Mereka datang dengan berjuta tujuan dan keinginan. Seperti menganggap bahwa makam itulah kunci pengabulan segala keinginan dan do’a. Entah sejak kapan tiba-tiba saja makam tersebut telah memiliki puluhan nama, makam sang wali karena masyarakat beranggapan bahwa yang bersemayam di dalamitu adalah seorang wali saktimandraguna yang membawa ajaran islam ke desa keramatan. Adapula yang eranggapan bahwa ituadalah makam seorang pejuang yang ikut  kini menjadi ramai dengan segala kesibukan yang berkaitan dengan makam sang …. masyarakat desa pun bersombong diri dengan mengatakan bahwa makam tersebut merupakan kunci keberkahan bagi desa mereka. Karena secara tidak langsung makam tersebut telah membawa dampak tersendiri bagi mereka.

Tapi tidak halnya dengan Kiai Rahmat. Ia malah resah dengan kehadiran makam sang …. bukan karena keberadaannya yang kian dilupakan tergantikan oleh makam sang …, bukan karena kehadirannya yang kian terlupakan. Tapi karena dakwahnya yang gagal membimbing masayarkat hanya karena makam sang ….

Hingga suatu hari ditengah pengajian rutin sehabis jama’ah isya, sang kiai mengutarakan kegundahannya selama ini di hadapan para santri yang masih bertahan pada keyakinannya.

“syirik itu adalah dosa besar.  Karena itu artinya kita menduakan, membandingkan dan menyamakan allah dengan sesuatu. Nah, dalam praktek kehidupan hal ini sangat sulit untuk dibedakan. Kita harus berhati-hati, tak jarang orang salah memahaminya karena pengetahuan agama mereka sangat dangkal.  Mereka hanya melihat suatu permaslahan hanya dari satu sisi. Untuk mengantisipasinya kita harus menelusuri dari awal, asal muasal datangnya masalah karena ini menyangkut dengan masalah ketauhidan. Salah bertindak bisa saja kita terjerumus dalam dosa besar.”

“maaf, yi bisa jenengan kasih contoh secara langsung?” salah satu santri bertanya langsung tanpa menunggu kiai tersebut mempersilakan santrinya untuk bertanya.

“seperti yang terjadi di desa kita ini. Banyak masyarakat yang menganggap makam temuan itu dengan persepsi yang berlebihan. “

“Berarti yang selama ini dilakukan masyarakat desa itu syirik, pak kiai?” santri yang duduk di pojok kanan ikut bertanya.

“bila ada makam temuan ada dua hal yang kita lakukan. Pertama kita cari terlebih dahulu siapa ahli warisnya bila ada berarti makam itu sepenuhnya tanggung jawab si ahli waris. Bila tidak ada baru kita menggunakan cara kedua, yaitu membersihkannya, bisa kita berikan patok sebagai pembatas atau kita biarkan saja. Bila kita berbaik hati bisa saja kita mendoakan, bisa saja yang bersemayam itu orang muslim, tapi bila seumpama bukan, toh kita tidak masalah. Tugas kita Sampai disini. Jangan ceritakan secara berlebihan tentang makam tersebut. Hubungan kita dengan si ruh tersebut sudah putus kecuali tiga hal : amal jariah, doa anak kepada orang tua atau sebaliknya dan ilmu yang bermanfaat.”

“maaf yi, berarti kita tidak boleh hal ini berlanjut terus? Tapi, sekali lagi maaf yi, selama ini toh tidak ada yang melarang apa yang diperbuat oleh orang-orang kebanyakan termasuk jenengan sendiri, apa ada solusi lain?” santri yang bertanya itu sepertinya takut untuk mengutarakan pendapatnya. Sedangkan Kiai Rahmat seperti mendapat sebuah tamparan keras di pipinya. Ia seakan tersadar akan kesalahannya selama ini. Ia melupakan sesuatu yang seharusnya telah ia lakukan sebelumnya. Tiba-tiba saja ia merasa hina, ilmu yang selama ini ia dapatkan ternyata belum seberapa dengan yang diamalkannya. Ia terdiam, tergugu, bahkan menangis atas kebodohannya. Sedangkan santri-santri yang melihat apa yang terjadi pada kiainya hanya bisa diam bingung menatap kiainya yang menangis sembari menutup pengajian mereka hari ini.

Sepulang dari musholla pondok, Kiai Rahmat masih ingat tamparan kecil yang menusuk hatinya. Bahkan perkataan santrinya dirasakannya seperti teguran dari tuhan kepadanya yang lalai. Malam yang larut pun tak kunjung membuat Kiai Rahmat lupa akan kejadian tersebut. Walaupun jam telah berdentang dua kali, ia tetap tak bisa memejamkan matanya untuk mengalihkan perhatiannya. Ia semakin dihantui oleh perasaan yang bersalah. Dengan putus asa ia beranjak dari tempat tidurnya. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Digelarnya sajadah, dan dilaksanakannya sholat taubah. Seusainya ia pun memanjatkan segala keluh kesah yang bergumul dihatinya. Diluruskannya benang kusut sehingga terurai satu persatu. Tak lupa ia memohon ampun atas kelalaiannya selama ini.

“ya, allah tuhanku, hamba mohon maaf atas kelalaian selama ini. Hamba telah membiarkan kesyirikan yang terjadi terus berlarut-larut. Hamba mohon bimbinanmu, semoga engkau bukakan hidayah-mu di hati mereka. Maafkan kesalahan mereka, sebab hamba merasa kesalahan mereka adalah kesalahan hamba yang tidak kunjung bertindak, hamba mohon ampunan-mu ya allah” Kiai Rahmat terus merintih mengadu pada tuhan. setelah dipanjatkannya doa sebagai penutup, Kiai Rahmat telah mengambil keputusan untuk mengajak kembali penduduk Desan Kramatan kembali pada diennya. Ia akan menentang segala bentuk kegiatan syirik yang berhubungan dengan makam tersebut.

Keesokan harinya Kiai Rahmat memanggil sejumlah santri kepercayaannya, diberitahunya maksud hatinya untuk menentang kepercayaan desa akan makam sang … Kemudian, ia bersama santri-santrinya melangkah pergi menuju Gang Medoro, menuju tempat keberadaan sang makam. Sepanjang perjalanan dipanjatkannya doa untuk menambah keyakinan hati akan apa yang akan ia lakukan. Sesampainya ia dilokasi makam sang …. ia pun segera menuju kerumunan orang yang tengah menjalankan ritual. Ditungguinya hingga mereka selesai, ia pun menegur pimpinan kegiatan itu yang paling depan dan membawa dupa yang tengah membara.

“mas, bisa kita bicara sebentar?” kiai rahhmat mencoba bicara dengan nada bersahabat.

“oh, Kiai Rahmat, ada apa tumben ke makam. Mau ikut sajenan, yi?” ucapnya setengah kaget atas kehadiran Kiai Rahmat.

“astaghfirullah!!” batin Kiai Rahmat terkejut atas sambutan dari pria tersebut. Kendati demikian, ia tetap berusaha tenang menghadapinya.

“mulai besok anda tidak boleh lagi megadakan kegiatan apapun yang berhubungan dengan makam ini. Masalah makam, biar saya dan santri-santri saya yang mengurusinya. Tapi sekali lagi tolong tinggalkan kebiasaan anda. Semua yang anda lakukan beserta kawan-kawan anda ini adalah syirik, hukumnya dosa besar.”

“maksud panjenengan ini apa???!!” tegas pria itu tidak terima dengan perkataan Kiai Rahmat.

“saya menentang kegiatan ini. Untuk apa anda memohon sesuatu pada makam yang statusnya orang tersebut sudah meninggal, itu sia-sia pak, lebih baik anda meminta allah saja.”

“pak kiai, saya tidak pernah mencampuri urusan anda dengan kegiatan pondok anda. Jadi jangan campuri urusan kami!!” ucap pria itu dengan setengah marah.

“tapi ini tetap urusan saya, saya tidak bisa tinggal diam melihat lingkungan saya terjerumus dosa.” Kiai Rahmat mencoba tetap tenanguntuk menghindari pertengkaran yang lebih memanas. Tapi belum sempat dilanjutkannya seseorang dipihak pria itumengecam keras dengan nada kasar . menentang apa yang dikatakan oleh Kiai Rahmat.  Hal ini disambut dengan serupa oleh rombongannya.

“sudah urusi saja pondok anda. Jangan ganggu kami!!!” sahut orang-orang itu.

“anda tahu apa tentang makam ini??!!”

“justru anda yang tidak tahu apa-apa tentang makam ini!!!” balas salah satu santri Kiai Rahmat.

Suasana kian memanas, perdebatan kian menyengit. Bahasa yang dilontarkan satu sama lain terdengar menyimpan gejolak marah. Hingga akhirnya salah satu dari rombongan yang tak kuasa menahan amarahnya melempari Kiai Rahmat dengan batu. Untunglah batu itu hanya membuat kening Kiai Rahmat memar sedikit, tapi peristiwa tersebut memicu rombongan lainnya untuk berbuat hal yang sama dengannya. Tak ayal lagi baku hantam antar keduanya tidak terelakkan lagi. Beberapa santri berusaha melindungi kiainya dengan tameng tubuh mereka. Sedangkan santri lainnya berusaha menenangkan rombongan itu walaupun nihil hasilnya karena hal tersebut malah membuat mereka semakin berang. Kiai Rahmat sembari melindungi dirinya memerintahkan santri-santrinya untuk kembali ke pondok. Ia tetap yakin bahwa jalan mereka masih panjang, terjal dan berbatu. Ia tetap yakin bahwa suatu saat mereka akan berhasil mengajak masayarakat untuk sadar kembali. Ya, ia tetap yakin.

Dipublikasi di cerpen | 2 Komentar

KERAPU TERIPANG DIUJUNG HARAPAN


Angin malam berhembus kencang menerpa tubuh tegap lelaki laut itu. Perawakannya tidak jauh berbeda dengan nelayan kebanyakan, kulitnya hitam legam dan bersisik, matanya tajam namun nampak lelah. Air mukanya menyiratkan ketabahan sekaligus keputusasaan yang menandakan bahwa pemiliknya telah mendapat sertifikat alam. Sebab kesetiannya mengarungi luasnya samudra dibawah sengat matahari dan dinginnya malam. Rambutnya ikal, gondrong dan kumal, barangkali terlalu sering dihempas angiin laut bercampur keringat yang menggumpal. Sejak mega merah telah menyelimuti dirinya dengan malam, Ia masih duduk di beranda rumahnya yang mengahadap ke laut lepas. Tidak seperti biasanya ia melaut untuk mencari ikan, ia hanya duduk termenung menatap langit. Malam ini purnama merajai laut dengan menyembunyikan ikan-ikan dibalik keanggunannya.  Tak ada yang tahu dimana mereka.

Tapi bukan karena itu, ia tak melaut. Wajahnya yang sendu seakan ingin ungkapkan perasaan yang mengganjal di hatinya. Sampannya yang tertambat di dermaga mengapung pasrah diterjang ombak, mengingatkannya akan ucapan istrinya beberapa hari yang lalu.

“pak, katanya bu guru, tole harus mbayar spp. Udah 3 bulan lho, pak.”

Ah, Tole, gumamnya dalam bisu. Dalam heningny a ia masih mencoba berpikir dengan apa ia bisa membayar tunggakan SPP anaknya. Padahal ia tidak lagi memiliki persediaan beras untuk seminggu ini. Belum lagi bila ia ingat bahwa perahu yang pernah ia miliki kini telah beralih tangan. Hanya sampan kecil yang jadi tumpuan hidup sehari-hari. Tole, anak sulungnya yang kini beranjak remaja, selalu bersikeras untuk ikut melaut dengannya. Tapi Dahuri tahu bahwa tubuh kecil sulungnya masih terlalu ringkih untuk berjudi nyawa dengan alam. Berjudi nyawa demi mendapatkan sesuap nasi.

Tidak ada pilihan bila menjadi nelayan bodoh seperti dirinya. Selalu dianggap yang salah dan tidak mengerti apapun tentang laut. Padahal Ia lahir dan dibesarkan bersama alam yang bernama laut, apakah tidak cukup mengerti tentang induk semangnya? Justru orang-orang berdasi itulah yang tidak tahu siapa dan apa itu alam. Mereka hanya tahu alam itu tambang uang bagi mereka.  Solar yang kian naik seakan menambah beban keluarga yang kian mencekik. Rasanya kekecewaan itu kian bertambah menggerogoti hidupnya. Dalam hidupnya, baru kali ini ia ingin marah pada tuhan. Mengapa ia ditakdirkan menjadi nelayan? Mengapa tidak ia dilahirkan menjadi bagian dari orang yang berdasi itu? Yang setap kali datang ke desanya selalu menaiki mobil berkilat yang hanya sanggup ia pandangi dari kejauhan? Mengapa pula ia hanya menjadi nelayan yang bodoh, miskin dan terhina? Setiap kali ia gagal membahagiakan keluarganya, setiap itu pula ia merasa bahwa ia tengah menanggung derita dari dosa yang belum ia pahami hingga saat ini.

“Pak, sudah malam. Istirahatlah dulu, Pak.” Tiba-tiba saja dari arah dalam rumah istrinya mengingatkan bahwa ia telah cukup lama diluar rumah. Ia hanya membalas dengan desahan panjang di malam yang kian dingin menusuk. Bagaimana bisa ia tidur bila ia teringat akan tanggungan 5 mulut yang kelaparan? Bagaimana bisa ia tidur bila ia ragu apakah ia masih bisa melaut demi mereka? Bagaimana bisa? Ah, malam semakin larut. Tapi malam tak jua melarutkan kemarahan yang mendera kalbunya.

***

Ini hari ketiga Ia sedih setiap kali Tole dan Ina berangkat sekolah dengan hanya berbekal 2 buku tulis kumal dan lusuh karena telah berulang kali digunakan dengan cara menghapus tulisannya dengan penghapus karet murahan. Seandainya saja ia bisa membelikan buku tulis baru untuk mereka, atau seragam putih untuk mereka yang telah berganti warna menjadi kuning akibat kadar garam yang terkandung dalam sumur mereka. Seandainya saja mereka tidak menentang alam.

Ia teringat kembali akan pernyataan tetangganya yang menceritakan perjalanannya di Jakarta. Ia mengatakan bahwa kerapu dan teripang yang terjual disana berasala dari china, jepang, dan india. Coba bayangkan padahal keduanya banyak terdapat di laut desa mereka. Mengapa mereka harus jauh-jauh mendapatkan keduanya bila di negara sendiri ada? Dan parahnya harga keduanya mencapai ongkos perjalanan tetangganya pulang pergi desa- jakarta. Sungguh aneh orang berdasi itu, mengapa mereka tidak memanfaatkan tenaga dirinya dan nelayan lainnya untuk mendapatkan teripang dan kerapu dengan harga yang lebih murah? Dengan begitu ia tidak perlu susah-susah menjual hasil tangkapannya dengan harga dibawah standar bila siang telah menjelang. Dengan begitu ia bisa membelikan sepatu atau tas sekolah untuk kedua anaknya. Dengan begitu ….

Kini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia  dan komunitasnya semakin tersisihkan, terpinggirkan dan terbodohi. Mungkin tuhan tidak keberatan bila ia menantang alam. Ia tidak punya pilihan lain karena persaingan perut dan kebutuhan yang kian meroket. Ia sering merasa bersalah saat membom laut yang telah membesarkan dan memberinya hidup. Tapi harus bagaimana lagi?

Ia pun beranjak dari beranda untuk masuk ke dalam rumahnya dengan lunglai, berharap masih ada harapan untuk esok hari. Harapan untuk mendapatkan sesuap nasi untuk kelima mulutnya. Semua kejahatan itu dirasa bukan pilihan tapi desakan. Apa yang terjadi lebih karena desakan dari alam yang kian ganas, dan keserakahan orang berdasi padanya untuk berbuat jahat. Dibelainya kepala Tole dengan lembut seraya dibisikannya sebuah kalimat.

“Janganlah engkau menjadi nelayan, le.”

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Melawan Arus


Semua orang pasti setuju bahwa ijazah adalah bukti mutlak seseorang dinilai berpendidikan. Karena hampir semua elemen masyarakat kita begitu yakin dengan keampuhan legalitas ijazah dalam kehidupan mereka, baik menaikkan status, pangkat, bahkan kondisi perekonomian mereka.

Lain halnya dengan Wees Ibnoe Sayy yang kerap disapa kak wes beserta  istri ibu Lusiana sabariah, mereka beranggapan bahwa pendidikan keluarga, pendidikan masa depan. Sekolah inti adalah rumah, guru utama itu ibu dan ayah. Mereka yakin bahwa Sekolah yang berasal dari bahasa latin skhole, scola, scoolae atau skhola yang memiliki arti mengisi waktu luang dengan belajar (Skorates). Sehingga sekolah tidak terikat ruang dan waktu yang di butuhkan adalah kemauan belajar dan ada yang mengajari sehingga siapa saja bisa terlibat didalamnya apalagi ijazah. Adanya Keprihatinan terhadap dunia pendidikan di Indonesia  membuat kak Wes beserta istri mencoba memberikan alternatif pendidikan yang efektif. Hal tersebutlah yang melatar belakangai tercetusnya home education yang dipelopori oleh kak Wes dan keluarga.

awalnya home education ia terapkan pada anaknya Nur Hamdi, dan hasilnya tanpa mengenyam pendidikan formal Nur Hamdi memiliki kemampuan yang luar biasa. Diusia yang tergolong muda Nur Hamdi telah mampu memiliki karya yang berupa buku kumpulan puisi dan cerita singkat yang di beri judul Mirip Ayam. Buku tersebut mulai ditulis semenjak berumur 8 tahun merupakan representatif capaian pemahaman terhadap kehidupan dan makna hidup. Buku tersebut di launcing bersamaan dengan buku kedua orangtuanya pada tahun 2007 dan dibarengi dengan pameran fotografi karya Nur Hamdi. Ibu lusiana menerbitkan buku yang berjudul Jangan Malu Berkata Saya Ibu Rumah Tangga, sementara Kak Wes menerbitkan buku Panduan belajar mendongeng yang di beri judul Mari Mendongeng. Bagi kak Wes mendongeng merupakan media komunikasi dan transformasi nilai tentang kebenaran dan kebaikan. Melalui dongenglah kak Wes memberikan pendidikan kepada anak-anak hingga ke benua Asia dan Afrika.

Kak Wes beserta istri ibu Lusiana kini mulai gencar mensosialisasikan home education sebagai pondasi kecerdasan anak. Melalui  seminar, sarasehan, dan pelatiahan ibu-ibu PKK diharapkan mampu memberikan motivasi kepada para orang tua untuk berpartisipasi dalam mendidik anak. Upaya yang mereka lakukan tidak berhenti sampai disitu, mereka pun kini mulai merintis multifersitas rumah dongeng indonesia. Rumah dongeng indonesia merupakan perpaduan dari home education dan pendidikan pesantren.

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

SURAT UNTUK SAHABAT (part II)


Sahabatku,,,,

Terima kasih kamu mau sedikit peduli dan memahami kondisiku.  Terima kasih juga telah sedikit perhatian atas kesibukannku akhir-akhir ini. namun, apa yang selama ini aku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Aku sudah memprediksi semua ini akan terjadi, cepat atau lambat. Dan akhirnya emailmu terakhir menegaskan akan kekhawatiranku selama ini. aku tidak menyalahkan atau menyesali apa yangsemua terjadi ( mungkin terlalu sentimentil kedengarannya. Atau mungkin kamu beranggapan aku terlalu egois dengan berkata seperti ini.) karena ini semua hanya menjadi bagian dari pencarian kebenaran ideologi yang kita percaya. Bila kita bicara ideologi itu artinya kita bicara kanan dan kiri.

Aku merasa bahwa diskusi ini tidak lain dari pertarungan ideologi. Dan aku sempat ragu dengan kemampuanku sendiri.  Namun disamping itu aku menikmati diskusi ini. mungkin kesempatan inilah aku bisa skeptis dengan apa yang selama ini aku anggap benar.  Semoga saja kita bisa menemukan kebenaran atau bertambah yakin atas apa yang selama ini mengisi ruang keyakinan kita.

Sahabatku,,,,,

Aku selalu bingung untuk memulainya darimana. Begitu banyak yang bergumul di otakku sampai kata-kata itu menjadi sulit untuk keluar secara tertib merangkai sebuah kalimat. Aaahhhhh…….. Anggap saja aku salah tentang demokrasi (karena aku yakin kamu beragumen secara objektif. Ini terlihat dari emailmu yang terakhir) dan kalian mewujudkan kafilah atas dasar menegakkan  nilai-nilai islam. Timbul pertanyaan dalam benakku, seperti apa islam yang ideal dianut oleh mu? Bukankah terasa jauh perbedaan jurang itu. Kamu dengan pahammu, aku dan masyarakat umumnya yang abangan.

Sahabatku, Apakah kamu tahu bahwa mental bangsa indonesia belum siap untuk sebuah perubahan? Coba kita lihat ke belakang. Sejarah sudah mencatat bahwa indonesia merdeka sejah1945. Para pendiri kita sepakat untuk menggunakan sistem pemerintahan republik sebagai bentuknegara kita. Tapi apa yang terjadi nyatanya kita baru menhyadari negara kita adalah republik secara benar-benar saat reformasi mulai berguncang di seluruh pelosok negri kita. Mental kita selama 53 tahun masihlah mental bernegara kerajaan. Bahkan tidak dielakkan masih banyak diluar sana yang mendambakan jenis kepemerintahan pra reformasi.

Orde baru yang digulingkan oleh mahasiswa pada tanggal 8 mei 2008, sejatinya telah digulingkan terlebih dahulu oleh IMF karena sebenarnya soeharto sendiri sudah tidak punya uang sepeserpun untuk menjalankan kepemerintahan ini. untuk menggulingkan sebuah kepemerintahan tidak cukup hanya doronan internal saja, sahabatku. Melainkan dorongan eksternal yang selama ini menjadi topangan kita secara tidak langsung. Ini bisa dilihat apa yang terjadi pada pemerintahan thaksin di thailand saat ini. vietnam beberapa bulan yang lalu, dan perang irak beberapa tahun yang lalu.

Setelah reformasi tahun 1998, banyak diantara kita yang mendengungkan jenis kepemerintahan demokrasi. Wacana-wacana mulai diangkat ke kalangan civitas. Menjadi silabus-silabus perkuliahan para akademia, politisi, hingga negarawan. Apakah kita paham secara utuh apa itu demokrasi? Aku berani mengatakan bahwa kurang dari 1/5 bangsa indonesia yang memahami apa itu demokrasi.

Namun itu tidak seberapa sahabatku,,, selama ini kita hanya belajar dari lembar-lembar buku yang kita dapat dari sekolah. Kita hanya mendengar kata-kata ini kala guru kita atau seminar yang kita ikuti. Namun apakah kita siap untuk berdemokrasi?

Di lapangan justru kita mendapati banyak orang yang justru memanfaatkan sistem demokrasi demi keuntungan pribadinya. Rakyat justru semakin sengsara dan dipinggirkan. Aku bahkan tidak isa mengelak dari kenyataan ini. tapi ini semua bukan salah sistem yang kita gunakan dalam bernegara.

Maksudku, kita belum siap secara mental mennghadapi perubahan setelah sekian lama jiwa kita jiwa kekerajaan dan tiba-tiba saja 53 tahun terakhir menjadi republik dengan bumbu rasa demokrasi konstitusional. Jangan salahkan sistem yang tengah berjalan, melainkan salahakan orang-orang yang memakai kesempatan  diatas masyarakat kita yang masih bodoh ini. proses ini masih panjang untuk menjadi negara yang dicita-citakan sahabatku.

Aku senang-senang saja bila seluruh dunia mengetahui islam dengan baik. Aku akan berdosa bila aku mengingkarinya, sahabatku. Tapi aku tidak sependapat bila indikator keberhasilan ini dilihat dengan berdirinya negara islam di indonesia. Citra negara islam dengan sendirinya akan terbentuk bila masyarakat kita sendiri bisa merefleksikan nilai-nilai islam dalam kesehariannya. Bukan melalui deklarasi berdirinya negara islam.

Aku juga tidak tidak menyangkal bahwa demokrasi ini merupakan buah dari pemikiran orang-orang kapitalis, dan memang budaya yang berkembang di indonesia yang berhasil diterapkan oleh zaman soeharto adalah musyawarah mufakat. Tapi menurut pemikiranku yang masih belum seberapa ini, beranggapan justru akan sulit bila pengambilan keputusan dilaksanakan secara mufakat penuh. Sulit dengan kondisi kita yang unik ini. apalagi kita tidak pernah tahu apa yang ada dibalik pemikiran satu orang dengan orang lainnya. Dalamnya laut dapat diukur tapi dalamnya hati siapa yang tahu? Kita pun tidak bisa menerapkan kekhalifahan murni di indonesia seperti halnya demokrasi yang kita adopsi dari luar. Ada tiga jenis demokrasi secara garis besar yaitu demokrasi langsung (klasik/asli), demokrasi perwakilan, demokrasi satu partai(sentralisme demojrasi yang biasa dianut oleh negara-negara komunias). Sedangkan bila ada demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila itu, merupakan penurunan dari ketiga jenis. Memang demokrasi mengusung suara individu. Tapi bukan sembarang suara individu yang diterima. Melainkan suara individu yang mengusung kesejahteraan dan kepentingan publik. Dan pelaksanaannya akan dilindungi hukum tertulis secara garis besar sedangkan pelaksanaannya menyesuaikan dengan kondisi masing-masing individu sebuah kelompok. Itulah makanya muncul penerapan secara otonomi dalam implikasinya.

Namun mengapa setelah demokrasi ini dilaksanakan, masih banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaannya? Para pejabat banyak yang melakukan korupsi, money politik di setiap kampanye? Atau tingkah anggota DPR yang sudah menjadi rahasia umum? Kemudian lahirnya konsep republik klasik yang berangkat dari kritik aristoteles atas demokrasi. Ketika kekuasaan berada di tangan pemegang suara terbanyak dan kekuasaan ini menggantikan hukum, akan muncul para penghasut rakyat yang menjadikan demokrasi bergeser kepada depotisme. Mulai digunakannya sistem musyawarah dan DPR dengan malfungsi karena belum memiliki desain yang konkrit dan pembaian tugas yang jelas.

Demokrasi yang berjalan di negara kita adalah demokrasi abu-abu yang belum ditemukan formulasinya. Belum ada blue print dengan visi dan misi yang jelas akan dibawa kemana arahnya bangsa kita ini. sehingga apa yang terjadi? Kita learning by doing yang kebablasan.

Tidak bisa disalahkan semua ini, karena kita memang sedang belajar. Toh demokrasi yang kita anut ini sudah mengalami banyak perubahan yang mencoba menyesuaikan dengan kondisi bangsa kita. Pembatasan dan pemisahan kekuasaan (separation of power)model perwakilan, kepanjangan kedaulatan, mekanisme problem keseimbangan kekuasaan memaksa dan kebebasan individu.

(aku tahu, dahimu berkerut mencoba mencerna apa yang aku tulis. Oleh sebab itu aku menyarankan untuk dibaca berulang kali. Akupun yakin kamu masih bersikukuh dengan pendapatmu sendiri. Ayolah akui saja, heheheh)

Jadi aku menegaskan bahwa sistem yang kita anut bukan pure demokrasi karena demokrasi yang murni itu tidak toleran, tidak adil dan tidak stabil. Mungkin kamu akan bertanya mekanisme pemungutan suara sekedar memiliki orientasi keuntungan pada wilayah pasar, bukankah begitu maksudmu? Kemudian meski memperjuangkan persamaan politik, tetap saja ada kesenjangan kelas dalam pelaksanaannya.

Ah sahabatku, aku puh susah untuk mencari jawabannya. Tapi sekali lagi kita bangsa yang mesti belajar banyak, selama SDM kita semakin menurun kita belum bisa memecahkan sendiri masalah kita sendiri. Selama kita masih bisa dengan mudahnya dihasut kita akan terus dipecah belah dan tidak punya pendirian.

Dan prediksiku bila kita mengganti sistem pemerintahan kita entah itu dengan kafilah, daulah, monarki, dan sebagainya peristiwa ini akan kembali terjadi karena masa transisi perubahan gaya gesek selalu besar. Masyarakat kita akan mengalami kebingungan arah kepemerintahan. Aku takut dengan kebingungan ini akan melahirkan rasa antipati untuk menyelenggarakan kepemerintahan. Dan akibatnya akan terjadi kevakuman dalam pemerintah.

Ingat sahabatku, bahwa dalam sebuah negara, akan selalu ada kelas secara tidak langsung. Dan akhirnya hanya golongan eksekutif sajalah yang menjalankan kepemerinthan ini. sedangkan golongan mayoritas (menengah kebawah) yang selama ini tidak punya kases untuk menikmati posisi politik untuk memperjuangkan kepentingan mereka hanya akan menjadi objek dari terselenggaranya sebuah pemerintah. Dan yang terjadi di negara ini banyak orang yang berusaha menggunakan kekuasaan untuk kepentingannya sendiri. Dan akibatnya saat ini demokrasi hanyalah menjadi sebuah tujuan akhirbukan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Maaf bila aku membalas suratmu lama sekali. Ternyata aku memang tidak bisa memungkiri bahwa selama pemilu hingga sekarang pun aku menjadi sibuk dengan urusan-urusan tetek bengek. Ngomong-ngomong agendaku yang masih rancu adalah mengurus sejumlah pelanggaran partai, dimasalah penyalahgunaan fasilitas pemerintah, money politik, dan dana kampanye. Dan partai yang kamu usung merupakan salah satu parta yang masuk dalam list. Maaf aku tak bermaksud menjelek-jelekan partai manapun. Aku hanya bermaksud untuk menunjukan padamu bahwa tidak ada satu pun partai di indonesia yang tidak ‘kotor’ dalam pelaksanaannya. Jangan melihat dari satu sisi, sahabatku. Ngomong-ngomong kader partaimu memang cerdik dibandingkan dengan kader dari partai yang lain. sampai-sampai semua temuan pelanggarakan selalu susah untuk diusut karena terlalu rapi pelaksanaannya.

Dipublikasi di Tak Berkategori | 1 Komentar

SURAT UNTUK SAHABATKU (PART 1)


Sahabatku,

Sejak awal aku sudah memberitahu padamu, aku berbeda pandangan denganmu. Dari kacamata yang kau gunakan untuk menyaring penglihatan, dari pijakan tempat aku berdiri dengan keyakinanku, hingga kendaraan yang aku gunakan untuk melangkah megerakan tradisionalisju tempat pemberhentianku. Aku tidak ingin perbedaan ini menjadi pemicu jurang persahabatan diantara kita. Apalagi jurang itu bernama ideologi. Ideologi itu bagaikan racun yang mengalir dalam hentakan jantung yang berdetak, berdetak dalam setiap hentakan jantung yang menghidupi kita tiap detiknya.

Namun sahabatku, berbeda denganmu yang baru mengenal dengan gerakan radikal sejak menginjakkan kaki di bangku kuliah, aku mengenal gerakan tradisionalis sejak aku lahir. Dalam setiap inchi kehidupanku, telah termaktub dengan jelas ajaran-ajaran gerakan tradisionalis. Aku sekolah dilingkungan yang berpaham gerakan tradisionalis, aku tinggal dipondok yang hampir bisa dipastikan beraliran gerakan tradisionalis (maaf bukan aku bermaksud membeda-bedakan tapi kenyataan inilah yang terjadi padaku. aku yakin kamu tahu maksudku), hingga kini aku masih tinggal dilingkungan gerakan tradisionalis. Bahkan aku menjadi kader dibeberapa organisasi berasaskan gerakan tradisionalis.

 

Sahabatku,,,,,,

Berat rasanya untuk menyampaikan pemikiranku padamu. Apalagi aku bukan yang ahli untuk berdebat dalam suatu diskusi. Pengetahuanku tentang gerakan tradisionalis sendiri masih bisa dikatakan hanya seujung kuku. Kemampuanku menganalisa masih dikatakan belajar merangkak. Masih banyak yang menjadi daftar pertanyaanku. Namun hingga kini aku bersyukur aku masih dikendaraan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja kamu selalu mengajakku untuk membicarakan yang sebenarnya tidak akan usai kita diskusikan (bila tidak ingin dikatakan debat).

 

Sahabatku,,,,,,,

Banyak umat islam yang memandang bahwa tanah airnya adalah satu, yaitu wilayah kekuasaan islam. Agama masih dilihat sebagai tanah air dan kewaganegaraan. Sehingga kita seringkali merasa asing dengan orang-orang yang tidak sepaham dan seagama dengan kita. Hal ini tejadi karena disentegrasi politik islam. Banyak oang yang mulai melupakan tujuan aslinya. Islam yang mejadi tujuan dengan politik sebagai kendaraannya ataukah sebaliknya politik yang menjadi tujuan dengan islam sebagai kedaraannya. Kita tidak bisa membaca pikiran orang masing-masing. Membedakan manakah yang memiliki tujuan murni. Tidak hanya PKB, PPP, PKS atau P lainnya yang berasaskan islam. Aku tidak bisa mengklaim bahwa aku benar kamu salah (semoga saja kita selalu diberi petunjuk oleh allah dalam mengambil setiap keputusan). Namun kamu perlu tahu satu hal sahabatku, saat ini tidak ada terasi yang tidak bau. Sama halnya dengan politik yang dikendarai sebuah organisasi bernama partai, tidak ada partai yang benar-benar bersih saat ini termasuk partai yang kamu usung. Jadi jangan sampai kita melihat sebuah benda hanya dari satu dimensi. Dunia yang kita tinggali ini memiliki jutaan dimensi yang tidak bisa dikatakan salah. Tergantung dari mana kita mengambil ketegasan dan pijakkan yang kita gunakan.

 

Aku berkata bukan karena aku sok tahu, sahabatku. Aku bukan manusia sempurna. Namun aku hanya berusaha skeptis terhadap sesuatu. Mencari bukti dan landasan aku berpegang.

 

Dalam kacamata pandanganku, dengan menganut demokrasi bukan berati kita menganut pola pikir kaum kapitalis (aku bertanya padamu mengapa kamu begitu anti dengan orang amerika? Padahal orang amerika pun ada yang seiman dengan kita. Sama-sama berpaham islam. Namun kehadiran mereka tertutupi oleh kesalahan-kesalahan kelompok orang yang bertentangan iman dengan kita), justru sebaliknya kita tidak sadar bahwa orang-orang barat banyak yang menganut ajaran islam. Sebenarnya demokasi adalah produk pemikiran orang islam yang sayangnya dipahami dan diklaim oleh-orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kita terlalu fokus membentuk kejayaan secara kepemimpinan politik sehingga kita melupakan persiapan menuju kejayaan itu harus dimulai dengan membentuk peradaban dan kebudayaan di antara umat islam itu sendiri. Sama halnya kita yang tidak mengetahui bahwa cerita ciptaan hans christian Anderson adalah saduran dari karya Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Ghazali dalam bukunya muhtashor ihya ulumuddin. Adakah yang memprotes? Produk pemikiran orang islam sebenanya sudah menjadi rahasia umum diakui kehebatannya oleh orang-orang barat. Sepeti buku kedokteran yang sampai saat ini masih dijadikan panduan orang-oang barat, al qagerakan tradisionalisn fi al-thibb karya Ibnu Sina. Adakah yang memberikan penghargaan pada orang-orang islam ini seperti halnya penghargaan yang diberikan oleh Thomas Alfa Edison, Marie Curry, atau lainnya? Tidak ada, sahabatku. Kita masih diam ditempat sibuk memikirkan kejayaan yang bersifat maya.

Begitu pula saat Rosulullah wafat, kita justru sibuk menunjuki orang-orang yang dirasa cocok menggantikan posisi beliau untuk menjadi pemimpin yang membawa islam selanjutnya. Kita menjadi lupa dengan substansi pesan terakhir yang diucapkan rosulullah menjelang kematiannya yang masih saja mengkhawatirkan keadaan umatnya.

Kita mulai terlupakan dengan substansi yang diajarkan oleh beliau dan secara terpaksa memahaminya secara tekstual. Padahal perubahan peradaban ini tidak cukup dengan memahaminya secara tektual saja, melainkan kontekstual.

Baiklah kalau kamu masih bersikeras mengatakan bahwa demokrasi berbeda dengan musyawarah/syura, aku tidak bisa memaksakannya padamu sahabatku, sama halnya dengan kamu mengatakan bahwa demokrasi merupakan produk kapitalis. Namun berapa banyak perbandingan orang-orang sayap kiri dengan sayap kanan? Bagaimana dengan masalah advokasi dengan politik ke luar negeri? Maafkan aku yang terlalu kasar mengatakannya. Hanya saja intinya adalah dikhawatirkan kita hanya bisa melihat pelaku kejahatan secara objektif tidak subjektif. (aku tidak mengatakan bahwa aku menyetujui segala tindak kejahatan) seperti halnya yang dilakukan oleh khalifah harun ar-rasyid yang terkenal adil dalam memutuskan. Beliau tidak segan-segan menyakan alasan mengapa seorang pencuri melakukan pencurian. Beliau terhenyak dan memaafkan pencuri tersebut ketika mengetahui alasan ia mencuri tidak lain karena keluarganya yang kelaparan. Itupun beliau memberlakukan sistem wazir yang setingkat dengan senat atau DPR pada masa sekarang.

 

Sahabatku,,,,

Bagaimana bisa nilai-nilai islam bisa dimengeti dan dipahami oleh orang-orang non islam bila tidak diterjemahkan secara universal. Seperti halnya pancasila, proses akulturasi kebudayaan dengan nilai-nilai islam, dan sebagainya. Temanku yang beragama non islam sempat menanyakan padaku apa artinya Allahu Akbar. Aku mejawabnya dengan arti sesungguhnya, allah maha besar. Tapi apa yang terjadi? Ia tidak percaya. Selidik punya selidik ia beranggapan bahwa itu kata kekerasan yang sering kali dipakai oleh saudara-saudara kita beralian keras (FPI) ketika melakukan aksi frontal tidak berkeprimanusiaan. Ironi sekali ucapan agung itu diucapkan manakala mereka merusakkan tempat ibadah teman-teman kita yang salah dalam memahami islam. Kalimat yang mulia itu dipakai untuk menghukumi orang-orang yang belum terbuka hatinya.

Bagaimana dengan kebudayaan, betapa tidak sopannya kita yang tidak menghargai sunan kalijaga yang membawa islam melalui proses akulturasi itu, sahabat. Beliau mengenalkan islam melalui gending-gending yang bernafaskan islam, mengenalkan nilai islam dengan cara menyisipinya dalam ritual kejawen yang berakar kuat di pulau jawa. Padahal bila kita lihat lebih jauh, semua gending, semua proses ritual itu intinya mengEsakan allah. Kalau pada saat ini banyak orang yang salah menempatkannya (menjadi beda maksud pelaksanaannya) itu merupakan kesalahan kita pribadi yang lemah dalam berfikir.

Kita seringkali susah membedakan mana agama mana budaya. Karena islam sendiri turun di negara yang tidak hampa budaya (jazirah arab). Toh kebudayaan itu hanya dijadikan senjata untuk masuk secara damai.

 

Sahabatku,,,,

Kadangkala kita menemukan kesulitan dalam menjalankan perintah agama kita. Ini bukan karena apa-apa, melainkan karena islam yang sempuna diterima dan diterjemahkan oleh kita manusian yang tidak sempurna. Hingga akhirnya akan terjadi ketimpangan dan perbedaan dalam menterjemahkan nilai-nilai dan syariat islam.

Seperti halnya menerapkan sistem khilafah. Apakah sistem itu sesuai dengan kondisi negara kita? Toh, kita bisa melihat sistem khilafah itu sendiri mengalami kegagalan ditengah jalan. Mulai dari iri, dengki, sampai faktor yang besifat politik sekaligus.  Ini merupakan sebuah indikasi, bahwa keberhasilan sebuah sistem negara bukan ditentukan oleh jenis sistem yang digunakan, melainkan kesadaran masyarakat dalam menjalakan sistem negaranya.

Bila kamu melihat demokrasi banyak madorotnya dilihat dari kegagalan para pejabat dalam memerintah, itu bukan karena salah sistem yang kita anut, melainkan kesalahan orang-orang yang menjalankan misinya dengan mengatasnamakan demokrasi sebagai tunggangannya.

 

Benar sahabatku, bila Demokrasi itu secara singkat diartikan 50 % tambah satu dianggap mufakat. Begitu pula dengan mufakat seperti yang kau tulis pada artikel sebelumnya. Namun sahabatku, bila kita hal itu diterapkan di negara kita, kata mufakat dengan sistem musyawarah yang akan sulit kita temukan. Karena kita akan menemukan banyak otak, keinginan, kondisi, dan pemahaman yang berbeda. Itulah alasannya dilaksanakan otonomi daerah dalam pelaksanaan demokrasi.

 

Sahabatku,,,,,

Kita semua tahu bahwa dalam melaksanakan syariat islam kita berpedoman pada al-quran dan hadis. namun dalam pelaksanaan sehari-hari kita bisa menggunakan ijma bila kita menemukan sesuatu yang tidak ditemukan di masa rasulullah. Dalam keyakinan yang aku pegang dalam be-ijma kita menggunakan aswaja sebagai manhajul fikr (landasan pikir).

 

Sahabatku,,,,,

Permasalahan ini tidak akan pernah usai untuk dibahas. Mungkin hanya menunggu waktu jawabannya. Maaf bila dalam penjelasannku terdapat hal-hal yang tidak bekenan. Begitulah yang namanya diskusi.

 

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

PETANI BERSARJANA TANPA LAHAN KOSONG


Sistem pendidikan dinegara kita adalah mengikuti kondisi lingkungan yang sedang terjadi. Seperti fenomena yang terjadi baru-baru ini, disisi lain fakultas pertanian mengalami penurunan minat, fakultas geografi justru mengalami peningkatan pasca gempa dan tsunami beberapa silam. Itu artinya masyarakat sekarang menilai pendidikan dari segi kebutuhan dan pasar. Jadi bisa saja bila besok terjadi booming dengan kondisi kelautan negara kita, justru fakultas perikananlah yang akan mendominasi. Seperti yang dikatakan oleh cak nun dalam bukunya Jejak Tinju Pak Kiai, beliau mengatakan bahwa orang indonesia itu gumunan, latah dan gampang dibikin mabuk. Cukup diserbu dengan iming-iming yang memabukkan niscaya langsung ngekor bagai kerbau dicocok hidungnya. Peristiwa seperti ini seolah mengamini apa yang dikatakan cak nun.

Apa kepercayaan masyarakat hanya berdasarkan kebutuhan pasar seperti yang barusan dipaparkan? Menurut saya tidak juga. Coba kita lihat bagaimana andil pemerintah dalam mensejahterakan orang-orang yang bekerja di bidang pertanian. Belum begitu menggembirakan. Harga gabah yang kian anjlok tidak sebanding dengan harga pupuk yang kian mencekik di leher. Ketika musin tanam tiba, mendadak saja pupuk-pupuk tersebut menjadi langka. Kemana orang-orang yang bergerak dibidang pertanian? Masih ingat kasus padi super toy yang menuai banyak kontroversi? Kerugian besar-besar melanda para petani. Belum lagi masalah lahan yang kian menyempit karena pembangunan yang kian meluas hingga ke pelosok desa. Belum ada payung hukum yang melindungi nasib petani-petani kita saat ini. Belum ada kepastiyan bagi para pengolah bumi kita.

Wajar saja bila minat masyarakat ke bidang pertanian semakin menurun. Mereka berpikir apa yang mereka lakukan bila tidak ada lahan yang mereka tangani. Apa yang mereka kerjakan bila semua permasalahan pertanian selalu dilihat dari sudut pandang bisnis dan bisnis. Untuk apa menjadi sarjana bila kerjanya hanya nyangkul disawah tanpa diberi kesempatan untuk memilih kebijakan yang terbaik untuk mereka?

Dari sinilah kita bisa menilai bahwa sitem pendidikan di negara kita dibentuk bukan untuk mencetak lulusan yang dibutuhkan melainkan mencetak lulusan yang ‘membutuhkan’ lowongan pekerjaan. Kita cenderung mengikut trend yang berkembang ketimbang memprediksikan apa yang akan terjadi di depan. Seolah-olah pendidikan saat ini semata merupakan komoditas bisnis yang menguntungkan. Disamping itu kompetensi kelulusan kurang dipertimbangkan sehingga lulusan seperti apa yang akan dicapai seorang mahasiswa setelah menyandang gelar sarjana. Masyarakat masih menilai pendidikan yang akan ditempuh dari segi prospek pekerjaan. Tapi apa yang kita lihat dilapangan? Banyak dari lulusan pertanian bekerja bukan dibidang pertanian. Dimana para lulusan pertanian ketika mereka dibutuhkan?

Pengubahan kurikulum yang dijadikan acuan juga perlu dipertanyakan. Kenapa baru dirombak sekarang? Kenapa tidak dari awal ditinjau menurut kebutuhan. Penggabunggan prodi hanya menunjukan bahwa selama ini spesifikasi kurang efektif dan terlalu detail. Tidak disesuaikan dengan kondisi yang dibutuhkan lapangan dimana saat ini persaingan pekerjaan semakin tinggi. Selama ini mahasiswa hanya dididik untuk mengetahui dan mempelajari tapi tidak diajari bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaiamana mahasiswa dapat mandiri tanpa harus mengandalkan lowongan pekerjaan yang kian sulit. Bukan lulusan yang siap diajari tapi siap terjun perang.

Jadi saran saya kepada akademisi, bila ingin fakultas pertanian kembali diminati, buat isu mengenai pertanian dulu sehingga masyarakat tertarik. Buat yang bombastis biar makin diserbu. Atau buat fenomenal agar jadi legenda. Silakan pilih yang mana.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

MEMBUMIKAN INDUSTRI PRIBUMI


“Aset terpenting dari sebuah Negara adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mendifinisikan masalah, menciptakan solusi, dan menambah nilai tambah (creative)” itulah yang dikatakan oleh Robert B reich, sekretaris mantan presiden amerika serikat Bill Clinton urusan buruh. Karena dengan SDM lah, kita mampu mengubah sampah menjadi aset, bukan sebaliknya aset yang menjadi sampah (suparno, erman; xv : 2009).

Selama ini saya selalu bertanya apakah benar orang-orang China lihai dalam berdagang? Apakah benar pekonomian di Indonesia di dominasi oleh orang-orang keturunan China yang dikenal lihai berdagang dimanapun ia berada? Sungguh luar biasa mereka ini, padahal bila dilihat dari jumlah merreka yang minoritas di Negara kita, mereka justru membuktikan bahwa mereka bisa tidak bisa dipandang sebelah mata. Bukan tanpa alasan penulis mengatakan seperti demikian, hal ini bisa kita buktikan dengan mengamati lingkungan tempat tinggal disekitar kita. Bisa dikatakan bahwa mereka hampir ada disetiap daerah bahkan hingga ke pelosok negri kita. Mayoritas mereka hidup dan sukses dari berdagang. Dimanapun mereka tinggal, bagaimanapun kondisi lingkungannya, apapun yang menjadi komoditas dagang, mereka selalu bisa survive. Tidak hanya di Indonesia saja, melainkan di seluruh pelosok dunia, China bisa dikatakan menguasai hampir seluruh perdagangan di dunia.

Itu sekilas gambaran umum mengenai perekonomian dari kelompok etnis China. Bagaimana dengan kondisi perekonomian bangsa kita? Bisa dikatakan perekonomian kita masih merangkak menuju posisi yang lebih baik. Apalagi sejak krisis global yang menghantam tempo lalu, harus diakui krisis global tersebut cukup memberikan pengaruh bagi perekonomian bangsa kita. Bicara tentang masalah perekonomian bangsa, maka secara tidak langsung kita akan bicara tentang ketenagakerjaan, industri, ketahanan dan kebijakan pemerintah,dll. Hal ini dikarenakan perekonomian merupakan salah satu ruh yang menentukan kemana arah pembangunan negara kita. Seperti jumlah pengangguran berijazah kian tinggi karena banyak perusahan yang kian selektif dalam mempertahankan pegawai mereka merupakan salah satu persoalan yang tak kunjung selesai. Bagaimana tidak, saat krisis global menghantam mereka kekurangan pasokan pesanan padahal  perusahaan harus menghidupi karyawan yang tidak sedikit jumlahnya. Sehingga tak jarang mereka harus melakukan pemangkasan tenaga kerja ketimbang berakhir gulung tikar.

Namun masalah pengangguran ini tidak semata-mata dikarenakan krisis global saja. Di tengah sempitnya ketersediaan lapangan kerja, tak banyak orang yang berani mengambil pilihan untuk menciptakan peluang usaha. Masyarakat lebih cenderung tertarik menjadi pegawai kantoran terutama PNS yang sifatnya formal ketimbang menjadi pengusaha. Padahal tiap tahunnya, sector formal hanya membuka peluang kerja yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang ada dilapangan. Bahkan cenderung menjadi TKI luar negri ketimbang TKI dalam negri. Sedangkan saat ini persoalan TKI luar negri yang masih menyimpan berbagai macam masalah belum juga terselesaikan. Walaupun kita tidak bisa memungkiri bahwa para TKI inilah yang justru menyumbangkan pendapatan devisa terbesar ke dua setelah sektor pariwisata. Perlu kita ketahui bahwa di sektor formal seperti ini justru tidak terjadi proses produksi yang mampu meningkatkan perekonomian negara secara signifikan. Belum lagi masalah rendahnya daya beli masyarkat kita. Hal ini bisa menjadi indikasi ada yang salah dengan sistem perekonomian yang diterapkan oleh pemerintah kita. Pemerintah salah menempatkan posisi sehingga berdampak rusaknya tatanan sosial yang ada. Seperti munculnya mal-mal besar yang mengancam keberadaan pasar-pasar lokal. Hingga gaya hidup masyarakat yang kian hedonis dan konsumtif telah mengaburkan identitas diri kita sebagai bangsa yang berbudaya.

Belum lagi, kondisi perekonomian lokal yang kian melemah akibat kurangnya dukungan dari berbagai pihak. Bila kita lihat lebih dalam lagi siapa yang berjasa dibalik perekonomian lokal yang tidak lain adalah kelompok informal seperti pedagang kaki lima (PKL), petani, peternak, nelayan hingga pengusaha domestik yang notabenenya adalah pekerja terbesar di Indonesia. Selama ini mereka hanya di pandang sebelah mata, parsial dan diskriminatif oleh pemerintah, terutama PKL yang didominasi oleh masyarakat urban. Tidak sedikit kota yang masih saja tidak siap menghadapi kedatangan mereka walaupun mereka sendiri tahu hal tersebut tidak bisa dihindari. Padahal mereka pun adalah human capital yang memiliki harkat dan martabat sebagai makhluk sosial[1]. Bandingkan dengan usaha perekonomian yang dilakukan oleh pengusaha dari golongan menengah keatas. Bukan rahasia umum lagi, mereka dengan mudahnya mampu menyelesaikan masalah hanya dengan sejumlah uang ditambah bantuan relasi yang tersebar dimana-mana. Usaha mereka pun berjalan dengan lancar dan berkembang dengan cepat. Ditambah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat, telah menciptakan industri yang cenderung padat modal dan padat teknologi ketimbang padat karya. Sehingga hasil keuntungan yang diperolehpun menjadi hak kolektif pribadi yang menjadikan jurang sosial semakin melebar.

Sudah saatnya kita merubah sistem perekonomian kita ke arah perekonomian yang berbasis kerakyatan, berdimensi wilayah serta berdasarkan kearifan lokal. Penulis beranggapan dengan kebijakan perekonomian yang berpihak pada rakyat diyakini mampu menjadi landasan masyarakat untuk bisa menciptakan industri kreatif dengan lapangan kerja yang mandiri dan terjaga kelestarian lingkungan, perekonomian yang berdasarkan pancasila dengan cara sebagai berikut :

Pertama, menciptakan kesadaran untuk mencintai dan menggunakan produk dalalm negri. Hal ini menjadi titik mula untuk membangun perekonomian berbasis kerakyatan. Sehingga para pelaku industri memiliki keyakinan dan kepercayaan diri bahwa barang produksinya akan diterima oleh masyarakat. dengan banyaknya permintaan dari pasar, secara tidak langsung para pelaku industri ini akan bersaing dan berusaha sekreatif mungkin dalam menghasilkan produk yang diinginkan oleh pasar. Mereka pun akan dituntut untuk meningkatkan kualitas produk mereka sehingga mampu bersaing dengan produk-produk luar negri yang selama ini masih mendominasi. Selama ini, masyarakat lebih mudah termakan oleh merek/brand ketimbang membandingkan kualitas yang sebanding dengan produk dalam negri. Ada semacam paradigma di masyarakat kita bila produk dari merek/brand impor terjamin kualitasnya. Padahal demikian itu tidak bisa diyakini seratus persen. Paradigma seperti itu harus kita ubah dengan mengcounter budaya menggunakan produk dalam neri sebelum bangsa kita menjadi ketergantungan.

Kedua, memberikan kemudahan akses bagi industri domestik untuk berkembang. Mengapa harus industri domestik? Industri ini biasanya relatif lebih tahan goncangan ketimbang industri ekspor ketika krisis melanda. Apalagi bila industri domestik ini berkaitan dengan lifestyle, dengan sentuhan ide kreatif dan keunikan, industri domestik ini bisa menjadi industri kreatif yang tak kalah menguntungkan. Contoh konkrit adalah dinobatkannya kota bandung sebagai kota distro, tidak terlepas dari apa yang disebut industri kreatif. Atau kita belajar dari apa yang dilakukan oleh pak hamzah, salah satu pelaku industri domestik. Berawal dari idenya yang ingin menyuguhkan  jamu  dengan konsep yang lebih modern kepada masyarakat, hamzah pun memutuskan untuk mendirikan The House Of Raminten di daerah  Kota Baru, Yogyakarta. Image jamu yang pahit dan  kampungan sepertinya tidak ada dalam kamus The House Of Raminten. Bukan lagi dinikmati melalui penjual jamu gendong atau ruko khusus jamu seperti pada umumnya, hamzah berusaha agar jamu dapat dinikmati oleh berbagai kalangan bahkan sambil nongkrong bersama teman sekalipun Dengan menggunakan konsep caffe dengan sistem penjualan layaknya angkringan.

Namun bukan hanya konsep unik saja yang ditawarkan, melankan nuansa adat jawa sangat kental dicaffe ini. hal ini bisa kita lihat dari para pelayannya yang menggunakan busana adat jawa yang sudah dimodifikasi. Kentonganpun dikreasikan sebagai alat memanggil para waitress. Tidak hanya itu, the house of raminten memunculkan suasana jawa dengan memutarkan gending-gending, ibu-ibu yang tengah membatik, atau serombongan orang yang tengah belajar tarian klasik jawa. Upaya yang dilakukan oleh hamzah disamping bernilai ekonomi, juga secara langsung melestarikan kebudayaan kita.

Sayangnya, dilapangan industri domestik kurang begitu dilirik oleh banyak orang. Hal ini dikarenakan fakor hambatan (barrier factor) dilapangan sangat besar dan mengancam industri domestik. Seperti pungli, ribetnya debirokratisasi dan deregulasi, menjadikan industri domestik ini ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy). Seharusnya industri domestik seperti ini diberi kemudahan seperti subsidi BBM dan listrik, mengurus pajak dan ijin gangguan, kredit modal awal, dsb. Sehingga gairah untuk mendirikan industri domestik ini meningkat dan memperbesar peluang terciptanya lapangan kerja mandiri.

Disamping itu negara dapat menjamin  dengan memegang kendali ekonomi sehingga liberalisasi dan globalisasi dalam kegiatan ekonomi tidak merusak tatanan yang ada. Sehingga baik pelaku industri domestik, nasional, maupun internasional tidak hanya dipandang sebagai alat produksi semata, melainkan bagian dari sistem ekonomi. Satu sama lain bisa menjadi penyangga perekonomian yang konstruktif dan melibatkan semua elemen masyarakat.

Ketiga, menghidupkan kembali pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi lokal. Dalam hal ini, penulis melakukan penekanan pada PKL sebagai salah satu bagian dari ekonomi lokal. Biasanya PKL tumbuh pesat di kota-kota besar, mayoritas dari mereka adalah masyarakat urban seperti yang sudah dikatakan oleh penulis pada bagian awal. Seharusnya pemerintah kota berterima kasih pada para PKL, karena mereka inilah sebenarnya pelaku sebenarnya kegiatan ekonomi lokal. Mereka inilah yang membuat arus uang dapat berputar. Sayangnya mereka seringkali tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Kita seringkali berpikir bahwa mereka adalah kelompok orang yang membuat kota semakin kumuh dan sumpek karena kehadirannya. Bila dilakukan relokasi biasanya mereka tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka. tidak jarang relokasi itu dilakukan dengan tanpa manusiawi. Seharusnya kita bercermin dengan apa yang dilakukan Kota Solo. Majalah Tempo menobatkan Kota Solo sebagai kota ramah pedagang kecil. Dimana PKL dan pedagang pasar yang semrawut diperlakukan dengan amat manusiawi. Pemerintah solo bahkan menjamu mereka hinga 54 kali demi mendengarkan aspirasi mereka dalam memutuskan masalah relokasi. Ditempat yang baru, mereka bahkan tidak dikenai biaya bangunan dan lokasi ketika menempati los pasar. Mereka hanya dikenai biaya perawatan pasar sebesar Rp 2.700,00 perhari. Tentu hal ini sangat meringankan mereka dalam keseharian.

Hasil yang diperoleh dari semua itu adalah kegiatan perekonomian lokal yang berkembang pesat dan tertib. Tidak hanya itu, pemasukan daerah Kota Solo pun saat ini di dominasi berasal dari restribusi pasar. Tidak ada demo penolakan relokasi melainkan kesadaran masyarakat untuk turut serta dalam kegiatan ekonomi lokal semakin meningkat. Industri domestik di kota ini pun kian menggeliat karena respon masyarakat dalam kegiatan ekonomi lokal dalam hal ini adalah daya beli masyarakat cukup tinggi. kepercayaan diri, kompetisi yang sehat serta etos kerja yang tinggi dengan sendirinya tercipta dalam situasi yang kondusif seperti ini.

Perekonomian yang berbasis kerakyatan seperti ini diyakini oleh penulis sebagai salah satu media untuk menumbuhkan nasionalisme kedaerahan. Dimana kita mampu untuk mempelajari, memahami dan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah tanpa harus menjadikannya sebuah pembeda, melainkan sebuah harmoni kehidupan yang indah. Satu sama lain menjadi penyokong pembangunan bangsa kita menuju ke arah yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

Suparno, Erman. 2009. National Manpower Strategy. Jakarta: penerbit kompas.

Majalah Tempo edisi September 2009.


[1] Majalah Tempo edisi september 2009,

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar