PASAR POLITIK BERNAMA PILKADA


Ada yang berbeda dengan PILKADA kali ini. Pesta demokrasi yang sejatinya dirayakan oleh setiap warga Negara Indonesia justru kehilangan gairahnya disaat situasi yang seharusnya panas dan hangat dibicarakan. Tidak ada lagi konvoi panjang dari partisipan masing-masing parpol dengan bendera yang berkibar-kibar. Teriakan yel-yel dan gegap gempita dari peserta konvoi pun semakin lenyap saja diantara tumpukan berkas-berkas kerja, dagangan yang tak laku, dan lain-lainnya. Bahkan goyang pinggul berbagai macam artis hanya mampu sekedar menarik perhatian sesaat masyarakat. Hal ini cukup membuat kalang kabut beberapa kandidat baik dari yang nomor ujung hingga bernomor buntut. Uang tabungan sudah semakin tipis, PILKADA hanya tinggal menghitung hari, berbagai manuver politik sudah dilakukan. Tapi, tetap saja masyarakat hanya memandang kampanye dengan sebelah mata. Apa yang sebenarnya terjadi?
Banyak partai politik kelimpungan menghadapi kenyataan yang tidak terduga ini. bahkan tidak sedikit parpol yang tidak menggunakan waktunya untuk unjuk gigi didepan masyarakat. Entah karena sudah pesimis dengan respon masyarakat? sudah muakkah masyarakat kita dengan janji-janji manis para kandidat yang tak kunjung terwujud? Apakah para kandidat itu sudah kehilangan akal menghadapi tingkah masyarakat kita yang mulai ‘cerdas’ saja? tabungan yang mulai menipiskah penyebabnya? Berbagai macam pertanyaan dan spekulasi mulai banyak bermunculan.
Menurut pengamatan penulis selama PILKADA ini berlangsung, fenomena ini terjadi karena ada empat faktor yang menyebabkannya.
Pertama, warga mulai jenuh dengan format PILKADA yang itu-itu saja, bahkan dinilai hanya sekedar formalitas resufle kepemerintahan. Sebagian masyarakat kita mulai banyak yang berpikir masihkah demokrasi sistem PILKADA ini berpihak pada rakyat dengan semakin menyempitnya ruang gerak mereka untuk menjadi penentu kemana arah tujuan bangsa ini. Setiap sudut kota sudah penuh dengan spanduk, baliho, poster, dan stiker yang berisikan foto kandidat dengan isu-isu kandidat yang diusung. Semua space sudah penuh dan dipesan. Tapi sarana masyarakat untuk mengetahui informasi detail mengenai seorang kandidat hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Seperti apa prestasinya? Lahir dan domisili dimana, hingga latar belakang pendidikannya banyak yang tidak tahu. Padahal pemilih terbanyak merupakan kelas menengah kebawah dengan SDM yang rendah.
Kedua, banyaknya kandidat cukup membuat pusing masyarakat. Bagaimana tidak? Dalam satu papol di satu dapel bisa hingga belasan yang terdaftar sebagai kandidat. Belum lagi dengan kandidat dari partai lain yang bila dijumlah bisa mencapai seratus. Bukan hanya masyarakat saja yang pusing memilih kandidat saat pencontrengan nanti. Para kandidat ini pun bingung sendiri menghadapinya. Sudah bertanding dengan teman sendiri dari satu kubu, masih bertanding pula dengan lawan dari kubu lain. Tentu saja mereka harus mengerahkan sekuat tenaga untuk bersaing. Belum lagi bila saingan mereka adalah artis-artis kelas ibu kota. Beruntung bagi mereka yang sudah memiliki nama di masyarakat. Mereka tidak perlu mengeluarkan budget besar untuk mempromosikan diri. Toh dengan kelebihan berupa ketenaran itu membuat mereka tidak perlu berpusing ria menyambangi massa kala kampanye, melainkan tinggal pergi ke pusat kota, massa dengan sendiri menyambanginya. Kampanye itupun tidak beda dengan jumpa fans antara artis dengan para penggemarnya. Begitu pula yang terjadi saat kampanye akbar yang mendatangkan artis-artis yang rupawan.
Disamping itu, fenomena banyaknya kandidat dari satu parpol di satu dapel sebagai akibatnya sistem election negara kita yang lebih mengutamakan formalitas dan prosedur ketimbang menggunakan sistem selection yang lebih mengutamakan substansi dan kualitasnya. Hanya dengan dalih kebebasan untuk berserikat dan berpolitik, kita tidak memiliki batasan yang melindungi masyarakat dalam memilih.
Ketiga, banyak para politis yang menilai bahwa kampanye terbuka ini tidak efektif dan produktif. Selain tidak bisa menjanjikan kemenangan jumlah suara, kampanye terbuka dinilai membebani para kandidat dari segi dana dan beresiko mendatangkan masalah. Kemacetan yang panjang, kecelakaan, sampai masalah perizinan lokasi sudah cukup membuat kepala para kandidat benar-benar berasa naik komidi putar. Belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi mulai dari pelanggaran lalu lintas, sampai pelanggaran kampanye yang bersifat pidana akibat ulah masa yang tidak terkontrol.
Hal inilah yang membuat para kandidat mulai berpikir mencari cara lain untuk berkampanye yang lebih kecil resikonya dan sedikit budget yang dikeluarkan. Contohnya banyak kandidat yang menggunakan teknik door to door untuk sekedar memperkenalkan diri dan menjabarkan visi misinya, bhakti sosial dan sebagainya. Ironisnya saat ini mulai banyak masyarakat yang justru beranggapan bahwa PILKADA merupakan kesempatan untuk bisa gantian memeras kandidat. Dengan dalih akan mendukung atau menggalang suara, kandidat mana yang sanggup menolak tawaran yang menarik itu.
Keempat, ketidaksiapan KPU di bidang sosialisasi cukup berperan membentuk kondisi PILKADA sekarang ini. Banyak media yang memberitakan sejumlah daftar cacat dari kerja KPU yang tak kunjung berakhir. PILKADA yang hanya menghitung hari saja, masih banyak yang menggelengkan kepalanya ketika ditanya kapan PILKADA diadakan. Belum lagi prosedurnya dan masalah logistik yang kian parah memperbesar terjadinya kecurangan dalam PILKADA ini.
PILKADA kali ini bisa diibaratkan pasar malam yang sepi pembeli. Para kandidat yang jualan visi dan misi seperti kehilangan aji-ajinya. Para pembeli itu seakan sudah tahu kualitas barang dagangannya, watak dan sifat penjualnya hingga daya tarik jualannya. Pasar yang semrawut dan ‘kotor’ sudah menjadi brand yang menempel di benak para pembeli. Bagaimana mungkin transaksi ‘jualan’ bisa berlangsung nyaman dan aman?
Semoga saja hal ini tidak berlanjut saat moment pencontrengan itu tiba. Mau dibawa kemana arah tujuan bangsa kita ini bila bukan kita sendiri yang menentukan?

Tentang ngakusantri

just nobody who wanna be somebody
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s